Kata orang Betawi, pintu tuh ada dua macem. Pintu yang dikunci karena gak boleh masuk. Sama pintu yang gak dikunci, tapi lu tetep gak bisa masuk. Karena pintunya tau, lu bukan orangnya.
Dan Gerbang ini, yang udah berdiri ribuan tahun sebelum Republik ada, adalah pintu yang kedua. Dia gak pernah dikunci. Dia cuma milih. Dan lampu taman di sekitarnya mati semua, soalnya dia gak butuh cahaya buat milih. Dia ngeraba hati.
DUNIA YANG DIIMPIKAN
Gerbang pelan-pelan kebuka. Drrrr... Suara batu tua kegesek. Debu ribuan tahun jatoh kayak salju item.
Kabut yang dari tadi tebel, tersibak. Kayak tirai dibuka.
Untuk pertama kalinya... Markus ngeliat dunia di baliknya.
Gue juga ngeliat dari jauh. Dari dalem kubah kuning Angku yang udah retak.
Langit. Biru. Bukan putih pucat kayak di Republik. Biru beneran.
Rumput. Ijo. Goyang kena angin. Angin beneran, bukan angin kabut.
Anak-anak kecil lari-larian. Ada yang jatoh, terus diangkat sama bapaknya. Gak ada yang ngetawain. Gak ada yang manggil "anak pengemis".
Matahari. Kuning anget. Bukan lampu taman. Matahari beneran.
Gak ada rasa takut di sana. Gak ada yang nunduk karena miskin. Gak ada yang ngitung koin buat bayar buku.
Markus senyum. Senyum yang pelan. Pertama kalinya senyum kayak gitu sejak jadi Setan Terlarang. Senyum Markus yang asli. Yang di bawah pohon mangga.
"Jadi... dunia itu benar-benar ada... bukan dongeng..."
Dominggus gak berkata apa-apa. Dia udah jalan ninggalin Markus. Jalan menuju kita. Menuju Larasati yang masih pucat di pelukan Kunti. Menuju Angku yang berdarah. Menuju gue.
Tanpa sekali pun noleh ke belakang. Langkahnya berat, tapi gak berenti. Air matanya netes di tanah, jadi asep putih kena panas Gerbang.
HAMPIR BERHASIL
Markus mendekati Gerbang. Tinggal selangkah. Tangannya yang retak item itu ngangkat.
Di depannya ada lapisan putih tipis. Hampir gak keliatan. Kayak plastik wrap yang nutupin makanan. Tipis, bening, tapi ada.
Ia nyentuhnya. Pelan.
Begitu disentuh, cahaya berubah. Permukaan putih itu beriak. Kayak air di got ditabok.
Ctt...
Kilatan kecil muncul. Biru putih. Tangannya terpental dikit.
Markus senyum. Malah senyum. Gak curiga sama sekali.
"Masih ada pelindung rupanya. Wajar. Dunia baru harus dijaga."
Ia gak curiga. Justru makin yakin. Karena kalo ada pelindung, berarti dalemnya berharga.
Ia coba lagi. Dorong pelan. Kilatan balik muncul. Sedikit lebih kuat. Cttak! Tangannya kesetrum.
Ia tetep senyum.
"Hampir... hampir..."
LARI MENUJU MIMPI
Markus mandang dunia itu sekali lagi. Lama. Matanya berkaca-kaca.
Seorang anak kecil di dalem sana lagi lari. Jatoh. Kesandung. Bapaknya langsung angkat, peluk. Gak ada yang ngetawain. Gak ada yang bilang "makanya jangan lari".
Markus narik napas. Air mata itemnya jatuh. Netes jadi asep.
"Selamat tinggal... semuanya... Dominggus... Laras..."
Ia mundur. Beberapa langkah. Mundur jauh. Kayak atlet mau lompat jauh.
Lalu berlari. Sekenceng-kencengnya. Makin cepet. Makin cepet. Kakinya yang retak itu napak tanah sampe tanahnya retak juga.
"BETA DATANG!"
BRAAAKKK!!
Tubuhnya ngehantam lapisan putih itu dengan seluruh tenaga Setan Terlarang.
Namun...