Terminal Lama

Topan We
Chapter #1

Chapter 1

Langit Rangkas Bitung sore itu berwarna kusam, seperti seng tua yang lama tidak tersentuh hujan. Awan menggantung rendah di atas deretan bangunan terminal yang tampak retak di makan usia. Bau solar bercampur asap rokok yang mengendap di udara, menyatu dengan aroma gorengan yang sudah dingin di etalase warung-warung kecil.

Suara klakson bersahutan. Teriakan calo bersilang dengan deru mesin kendaraan yang tak pernah benar-benar berhenti.

Terminal penumpang tipe A yang sekaligus merupakan terminal induk di Rangkas Bitung dan terbesar di kawasan kabupaten Lebak. Mobil penumpang umum atau disingkat menjadi MPU dilayani oleh kendaraan bus mikro yang disebut PS oleh warga Lebak-Banten. PS merupakan alat transportasi antarkota satu-satunya yang sering digunakan warga Rangkas Bitung untuk berpergian menuju daerah di sekitar kawasan kabupaten Lebak seperti Kopi, Sajir, Gunung Kencana, Malingping, Bayah dan Cikotok yang mempunyai kontur jalanan pegunungan yang sempit dan berliku.

Di dalam terminal itu, kehidupan bergerak seperti mesin tua yang tak pernah dimatikan.

Bus mikro PS yang bermacam motif berjajar seperti hewan lelah. Sopir-sopir duduk di bangku panjang sambil merokok, berbicara tentang setoran demi setoran. Beberapa penumpang menunggu dengan wajah datar, membawa karung sayur, kardus mie instan, atau tas kain yang tampak terlalu berat untuk perjalanan yang panjang. Di sudut lain, seorang perempuan tua menjajakan kopi hitam dalam gelas plastik. Uapnya mengepul pelan, hilang ditelan udara terminal yang lembab. Tak jauh dari sana berdiri sebuah bangunan berplang kusam. "Showroom mobil dan motor Abadi Jaya Rangkas."

Lampu neon di dalamnya berkedip-kedip seperti mata yang sudah lelah untuk terus terbuka.

Seorang pria sedang berdiri di dekat pintu masuk showroom itu. Namanya Edi Permana, usianya 29 tahun. Tubuhnya kurus tinggi. Rambutnya dipotong pendek, rapi, hampir seperti seorang pegawai kantor yang terlalu serius dengan hidupnya. Ia mengenakan seragam abu-abu yang sudah dilipat di bagian lengan, memperlihatkan pergelangan tangannya yang pucat.

Di tangannya ada sebuah buku. Ia mencatat sesuatu. Bukan angka penjualan. Bukan daftar kendaraan. Bukan pula catatan pekerjaan. Tangannya bergerak pelan, mencatat sesuatu yang hanya ia sendiri yang mengerti.

Di halaman buku itu tertulis beberapa nama. Beberapa diantaranya sudah bertanda garis. Edi mengangkat kepalanya. Matanya menatap ke arah terminal yang hiruk pikuk.

Lihat selengkapnya