Entahlah, rasanya memang seperti itu. Pagi di Terminal Lama selalu datang lebih cepat dari tempat lain. Bahkan sebelum matahari benar-benar muncul di balik deretan atap seng, suara mesin kendaraan sudah lebih dulu memecah udara yang masih dingin. Klakson bus Primajasa jurusan Rangkas Bitung-Tanjung Priok terdengar panjang, diikuti teriakan sopir yang memanggil penumpang menuju daerah pegunungan. Kopi. Sajir. Gunung Kencana. Malingping. Bayah. Nama-nama daerah itu seperti doa perjalanan yang diucap berulang setiap pagi.
Di tengah kesibukan itu, ada satu tempat yang selalu tampak sedikit lebih tenang dibanding yang lain. Sebuah rumah kos dua lantai yang berdiri di jalan sempit tidak jauh dari terminal. Cat temboknya mulai mengelupas. Beberapa jendela dibiarkan terbuka agar udara pagi bisa masuk ke kamar-kamar kecil yang disewakan untuk para pendatang yang bekerja di sekitar terminal.
Di kamar paling ujung lantai bawah, seseorang telah terjaga sejak dini hari. Edi Permana duduk di tepi ranjang. Kamar itu sempit—tak lebih dari tiga kali empat meter.
Isinya sederhana: sebuah ranjang besi, lemari plastik berwarna cokelat tua, meja kecil, rak buku, serta kipas angin yang berputar lambat, seolah enggan menjalankan tugasnya.
Di atas meja kecil itu terdapat sebuah buku catatan. Buku yang sama seperti yang ia pegang kemarin sore di showroom. Edi membuka halaman baru. Dia memegang pulpen dengan cara yang sangat rapi, hampir seperti seorang guru yang sedang mengoreksi buku salah satu murid. Tulisan tangannya kecil, rapat, dan sangat teratur. Ia menulis ulang:
• Nama : Rahmat
• Usia : Sekitar 49 tahun
• Pekerjaan : Preman terminal
Pulpen itu berhenti sebentar. Edi mengangkat kepalanya. Dia menatap kosong ke dinding kamar yang retak di beberapa bagian. Lalu ia berbicara pelan.
“Orang seperti dia biasanya hidupnya lama…”
Ia berhenti. Lalu melanjutkan kalimatnya sendiri.
“…kalau tidak ada yang menghentikannya.”
Tidak ada siapa pun di dalam kamar itu. Namun Edi mengangguk pelan, seolah seseorang baru saja menjawab perkataannya.
Ia kembali menulis:
• Sifat : agresif.
• Tertawa paling keras.
• Suka memukul orang jika ia dibuat marah
Pulpen itu berhenti sekali lagi. Edi membiarkan pandangannya bertahan pada tulisan itu dalam waktu yang cukup lama. Lalu, ia menorehkan satu kalimat terakhir.