Terminal Lama

Topan We
Chapter #3

Chapter 3

Beberapa tahun sebelum Terminal Lama mengenal nama Edi Permana, sebelum ia bekerja di showroom Abadi Jaya Rangkas dan mencatat manusia di buku catatannya, ada masa ketika hidupnya masih terlihat seperti kehidupan anak sekolah biasa.

Masa itu dimulai di sebuah sekolah menengah pertama negeri yang berdiri cukup jauh dari kampung Cinangka, sekitar kurang lebih 6-7 kilo jaraknya. Bangunan sekolahnya terawat. Cat dindingnya selalu mentereng, dan halaman tengahnya dipenuhi pohon ketapang yang sering menggugurkan daun-daun lebar setiap kali angin sore datang. Di tempat itulah Edi dikenal sebagai murid yang berbeda.

Ia bukan anak yang sering membuat keributan di kelas. Ia juga bukan anak yang suka pamer kecerdasan. Tetapi setiap guru di sekolah itu tahu satu hal tentangnya.

Edi Permana selalu menjadi juara kelas. Nilai matematikanya tinggi. Pelajaran sains menjadi sesuatu yang sangat ia sukai. Bahkan beberapa guru pernah mengatakan bahwa cara berpikirnya terlalu matang untuk anak seusianya. Namun kecerdasan itu justru membuatnya tampak asing bagi teman-temannya. Edi jarang ikut bermain sepak bola di lapangan. Ia lebih sering duduk di bawah pohon ketapang sambil membaca buku. Buku apa saja yang bisa ia dapatkan dari perpustakaan sekolah. Buku sejarah, buku cerita petualangan, bahkan buku tentang perilaku manusia.

Beberapa anak di sekolah mulai menganggapnya aneh. Mereka sering berbisik ketika Edi lewat. Beberapa bahkan sengaja menjauh darinya. Namun ada satu orang yang tidak pernah memperlakukan Edi seperti orang asing. Namanya, Adit.

Adit adalah kebalikan dari Edi. Ia lebih ceria, mudah bergaul, dan sering tertawa keras ketika berbicara dengan orang lain. Tetapi entah bagaimana, sejak awal masuk sekolah mereka selalu duduk di bangku yang sama. Persahabatan itu tumbuh tanpa direncanakan. Adit sering mengajak Edi makan di kantin, menemaninya pulang, bahkan membelanya ketika ada teman lain yang mencoba mengejek Edi karena sikapnya yang terlalu pendiam. Bagi Edi, Adit bukan sekadar teman. Ia seperti saudara yang tidak pernah ia miliki.

Di sekolah itu, ada seorang gadis yang perlahan mulai memasuki kehidupan Edi. Namanya Dewi.

Dewi duduk di bangku yang tak jauh dari meja Edi. Ia dikenal sebagai salah satu siswi yang aktif dalam berbagai kegiatan sekolah, terutama Pramuka.

Setiap kali sekolah mengirimkan kontingen untuk mengikuti perkemahan atau kegiatan pramuka di luar kota, nama Dewi hampir selalu masuk dalam daftar peserta. Dan tanpa banyak orang sadari, nama Edi juga sering muncul di daftar yang sama.

Pada mulanya, semuanya terjadi secara kebetulan. Tetapi perlahan, percakapan di antara mereka menjadi semakin sering. Dewi acap kali bertanya mengenai pelajaran, sementara Edi dengan sabar memberikan penjelasan. Dari percakapan-percakapan kecil itu, hubungan mereka menjadi lebih dekat. Tidak ada yang benar-benar mengatakannya secara terang-terangan, tetapi hampir semua teman di kelas tahu bahwa Dewi memiliki perasaan khusus kepada Edi. Dan Edi pun tidak pernah menolaknya.

Suatu hari, sekolah mereka mengikuti kegiatan perkemahan pramuka di sebuah lapangan luas yang berada di pinggir desa. Tenda-tenda dari berbagai sekolah didirikan berjajar. Tiang bendera berdiri di tengah lapangan. Suara peluit pembina pramuka terdengar dari kejauhan, memanggil para peserta untuk mengikuti kegiatan berikutnya.

Setelah merapikan tenda, Edi melangkah menjauh dari keramaian.

Ia menemukan sebuah sudut yang lebih sepi, tersembunyi di balik deretan pohon pisang yang tumbuh liar di tepi lapangan. Di tempat itu, angin berembus lebih tenang, dan suara orang-orang terdengar samar, nyaris tak mengganggu. Edi duduk di atas tanah sambil menarik napas panjang.

Lihat selengkapnya