Di Kampung Cinangka, warga RT 001 RW 001 sudah mengenal satu nama dengan sangat hafal, yaitu Sumiyati.
Bukan karena ia seorang pejabat desa. Bukan pula karena ia berasal dari keluarga terpandang. Tetapi karena hampir setiap pesta pernikahan di wilayah itu, wajah pengantin perempuan selalu disentuh oleh tangan yang sama. Tangan Sumiyati.
Rumahnya berdiri di ujung jalan kampung yang diapit oleh kebun pisang dan pohon kelapa. Dinding rumah itu masih terbuat dari tembok lama yang dicat warna hijau pucat. Halamannya tidak begitu luas, tetapi selalu terlihat bersih. Dengan pagar setinggi dada yang terbuat dari bambu.
Di teras depan ada sebuah meja kayu panjang tempat menyimpan kotak-kotak kosmetik.nBedak. Lipstik. Pita rambut. Cermin besar dengan lampu kecil di sekelilingnya. Semua orang di kampung tahu bahwa di rumah itulah Sumiyati biasanya menerima panggilan merias dari para calon pengantin.
Usianya sudah 48 tahun, tetapi penampilannya selalu rapi. Rambutnya disanggul sederhana. Ia sering mengenakan kebaya atau blouse yang dipadukan dengan kain batik. Tidak berlebihan. Namun tetap terlihat berbeda dari perempuan lain seusianya di kampung. Sumiyati selalu percaya bahwa seorang perias pengantin harus menjaga wibawanya. Ia tidak bisa terlihat sembarangan di depan orang lain.
Selain menjadi perias, ia juga dikenal sebagai ketua posyandu di kampungnya. Setiap bulan, para ibu akan datang membawa bayi mereka untuk ditimbang. Sumiyati akan berdiri di tengah kegiatan itu, mencatat berat badan anak-anak, memberi arahan, dan sesekali bercanda dengan para ibu muda yang masih gugup mengurus bayi pertama mereka.
Ia terlihat kuat. Mandiri. Dan selalu sibuk. Terlalu sibuk bahkan. Kesibukan itu sebenarnya sudah dimulai sejak bertahun-tahun lalu, sejak rumah tangganya mulai retak. Dulu, ketika Edi masih kecil, rumah itu tidak pernah terasa sepi.
Ayah Edi adalah seorang buruh bangunan biasa. Pekerja keras yang sering pulang dengan tubuh penuh debu semen. Tangannya kasar, tetapi ia selalu membawa sesuatu setiap kali pulang dari pekerjaan. Kadang buah. Martabak. Kadang membelikan mainan murah dari pasar untuk Edi. Kadang juga hanya cerita tentang bangunan yang sedang ia kerjakan.Namun waktu mengubah segalanya.