Terminal Lama

Topan We
Chapter #5

Chapter 5

Tahun terakhir di bangku SMA selalu terasa aneh bagi banyak orang. Bagi sebagian siswa, itu adalah masa penuh harapan. Masa ketika mereka mulai memikirkan kuliah, pekerjaan, dan kehidupan yang akan datang setelah sekolah berakhir. Namun bagi Edi Permana, masa itu justru terasa seperti ruang yang terlalu sempit untuk pikirannya sendiri.

Sore itu, angin dari kebun kelapa di belakang rumah berhembus pelan melewati jendela ruang tengah. Rumah di kampung Cinangka tampak lebih tenang dari biasanya. Suara jangkrik mulai terdengar dari arah sawah yang tidak jauh dari halaman. Edi sedang duduk di kursi kayu panjang ketika ibunya memanggil dari kamar.

“Di… sini sebentar.”

Edi berjalan menuju ruang tengah. Sumiyati sudah duduk lebih dulu di sana. Di tangannya sebuah lipstik sedang menari di bibirnya. Sebelah tangan lainnya memegang cermin kecil. Di atas meja ada sebuah amplop yang tampak sedikit kusut di bagian sudutnya.

Perempuan itu menatap anaknya beberapa detik sebelum berbicara.

“Sebentar lagi kamu lulus,” katanya pelan.

Edi mengangguk.

“Kalau semua biaya administrasi lancar, bulan depan sudah kelulusan."

Sumiyati kembali mengangguk. Ia tampak memikirkan sesuatu sebelum akhirnya menyodorkan amplop itu kepada Edi.

“Ini buat biaya administrasi kelulusan kamu… sama kebutuhan lain.”

Edi menatap amplop itu sebentar. Lalu ia menggeleng.

“Enggak usah, Bu.”

Sumiyati sedikit mengernyit.

Lihat selengkapnya