Terminal Lama

Topan We
Chapter #6

Chapter 6

Banyak orang di kampung Cinangka dulu percaya bahwa masa depan Edi Permana akan sangat cerah. Guru-gurunya pernah mengatakan hal yang sama ketika ia masih duduk di bangku sekolah. Seorang murid yang selalu juara kelas, yang nilai ujiannya hampir tidak pernah turun, biasanya akan melangkah jauh lebih mudah dibandingkan yang lain.

Namun kenyataan hidup sering berjalan dengan cara yang tidak bisa diprediksi oleh siapa pun. Setelah lulus dari sekolah menengah atas, Edi tidak tinggal diam di kampung. Ia mencoba melakukan apa yang biasanya dilakukan oleh banyak anak muda dari daerah kecil. Pergi mencari pekerjaan ke kota besar. Jakarta misalnya, atau Tangerang, atau Cikarang. Daerah yang memiliki UMR lebih tinggi dari kota yang ia tinggali.

Kota-kota itu terdengar seperti tempat yang penuh kesempatan. Setiap hari ribuan orang datang ke sana dengan harapan yang sama—mendapatkan pekerjaan yang layak dan kehidupan yang lebih baik. Edi pun melakukan hal yang sama. Daftar online. Mengirim dan melengkapi semua persyaratan. Dan melakukan interview langsung di tempat kerja atau di perusahaan yang ia lamar.

Ia melamar ke toko elektronik. Melamar ke perusahaan distribusi. Melamar menjadi staf administrasi di beberapa kantor kecil. Beberapa kali ia bahkan harus berdiri berjam-jam di depan gedung perkantoran hanya untuk menunggu antrian wawancara.

Ada hari-hari ketika ia pulang dengan perasaan hampa karena tidak ada satu pun panggilan yang datang. Namun ada juga waktu ketika nasibnya terlihat sedikit lebih baik. Beberapa perusahaan menerima Edi bekerja. Ia pernah menjadi staf administrasi di sebuah gudang logistik di daerah Cakung. Ia juga pernah bekerja di sebuah toko peralatan elektronik di kawasan Jakarta Timur. Namun tidak ada satu pun pekerjaan itu yang bertahan lama.

Awalnya semuanya selalu terlihat baik-baik saja. Edi bekerja dengan sangat rapi. Ia jarang melakukan kesalahan. Ia teliti dan cepat memahami pekerjaan yang diberikan kepadanya. Namun setelah beberapa waktu, sesuatu mulai berubah. Rekan kerja mulai memperhatikan kebiasaan-kebiasaan anehnya. Yang membuat Edi dijauhi dan dikucilkan secara diam-diam. Itu yang akhirnya membuatnya tidak betah. Dan tidak bisa bertahan bekerja disana.

Salah satu rekannya bahkan pernah melihatnya menulis catatan tentang kebiasaan rekan kerjanya sendiri di sebuah buku miliknya. Hal-hal kecil itu perlahan membuat orang merasa tidak nyaman. Mereka mulai menjauh. Mulai berbisik di belakangnya. Sampai akhirnya, pekerjaan-pekerjaan itu selalu berakhir dengan cara yang sama. Edi berhenti dengan sendirinya.

Setelah beberapa tahun mencoba bertahan di kota yang terlalu ramai itu, Edi mulai merasa lelah dan jenuh. Jakarta terasa terlalu bising. Terlalu kompetitif. Atau terlalu penuh dengan orang-orang yang selalu ingin menjadi nomor satu atau yang terbaik.

Lihat selengkapnya