Terminal Lama

Topan We
Chapter #7

Chapter 7

Showroom Abadi Jaya Rangkas berdiri di deretan ruko tua yang menghadap langsung ke jalan menuju Terminal Lama. Bangunannya tidak terlalu besar, hanya cukup untuk memajang beberapa motor dan dua atau tiga mobil.

Di kawasan Terminal Lama, Abadi Jaya Rangkas adalah satu-satunya showroom yang menyediakan motor dan mobil dalam satu ruangan. Dan walaupun tidak sebesar showroom di kota lain, tempat ini adalah yang paling konsisten bertahan disana selama belasan tahun.

Di pagi hari, sebelum terminal benar-benar dipenuhi suara kendaraan, beberapa karyawan showroom biasanya sudah datang lebih dulu.

Pintu dibuka setengah. Motor-motor dipindahkan satu per satu. Dan debu yang menempel di kaca mobil dilap dengan kain basah.

Edi selalu datang paling awal. Ia membuka pintu showroom dengan gerakan pelan, lalu menyalakan lampu neon yang menggantung di langit-langit. Cahaya putih itu menyinari ruangan kecil yang dipenuhi aroma wewangian yang bermacam-macam.

Di meja kerja rekannya Lili, Edi akan langsung menyalakan komputer tua yang sering mengeluarkan suara dengung panjang sebelum akhirnya menyala.

Beberapa menit kemudian karyawan lain mulai berdatangan. Ada Angga, mekanik yang sering mengeluh tentang kehidupan keluarganya. Ada Lili, si cantik bertubuh langsing bagian administrasi yang mulutnya hampir tidak pernah berhenti bicara ketika ada calon pembeli datang.

Dan tentu saja, ada orang yang paling jarang disentuh oleh siapa pun di kawasan terminal itu. Namanya Rahmat, tapi ia bukan bagian dari tim Abadi Jaya Rangkas. Orang-orang di Terminal Lama mengenalnya sebagai preman yang sudah terlalu lama menguasai wilayah itu. Tubuhnya tidak besar. Namun ia memiliki wibawa dan aura garang. Lengannya dipenuhi tato yang sudah mulai pudar.

Ia sering duduk di kursi plastik dekat "WMJ" Warung Makan Jumanto, sambil mengawasi siapa saja yang masuk dan keluar dari area terminal. Semua pedagang tahu bahwa Rahmat harus dihormati. Atau setidaknya, tidak dibuat marah.

Pagi itu Rahmat datang seperti biasa. Ia berjalan santai ke arah showroom sambil memegang rokok yang hampir habis.

Kang Abuy, bagian marketing, yang sedang membersihkan motor langsung menegakkan tubuhnya.

“Pagi, kang Rahmat,” katanya cepat.

Rahmat hanya mengangguk sedikit. Matanya menyapu isi showroom sebelum berhenti pada satu orang yang sedang duduk di meja kecil dekat jendela. Edi.

Rahmat memperhatikannya beberapa detik. Edi tidak menoleh. Ia sedang menulis sesuatu di buku catatannya.

Rahmat berjalan mendekat.

Lihat selengkapnya