Warung makan itu berdiri tepat di depan jalan dari deretan ruko tempat Showroom Abadi Jaya Rangkas berada.
Bangunannya sederhana. Dindingnya setengah tembok dan setengah papan kayu yang sudah mulai rapuh bawahnya. Di bagian depan ada etalase kaca berisi lauk-pauk yang tersusun dalam piring aluminium.
Ayam goreng. Telur balado. Ikan kembung. Tempe oreg dan lauk lainya, yang terlihat menumpuk.
Pada etalase itu sebuah stiker bertuliskan dengan warna merah: "WMJ" Warung Makan Jumanto.
Setiap pagi, sebelum para sopir mikrobus mulai berebut penumpang di terminal, aroma bawang goreng dari warung itu sudah lebih dulu memenuhi udara.
Orang yang mengurus warung itu adalah 2 anak perempuan pakde Jumanto dan seorang pekerja perempuan bernama Maryam. Usianya tiga puluh satu tahun.
Tubuhnya tidak terlalu tinggi, tetapi gerakannya selalu terlihat cekatan. Rambutnya biasanya diikat sederhana di belakang kepala, dan ia hampir selalu mengenakan celemek yang warnanya sudah sering terkena noda minyak.
Maryam bukan perempuan yang suka berbicara keras seperti beberapa pedagang lain di sekitar terminal. Ia lebih sering tersenyum kecil ketika melayani pembeli. Banyak orang yang datang ke warung itu bukan hanya karena makanannya murah, tetapi juga karena cara Maryam memperlakukan pelanggan. Sopan. Tenang. Dan tidak pernah terburu-buru. Orang-orang di terminal tahu bahwa Maryam adalah seorang janda. Itu juga nilai plusnya.
Suaminya meninggal beberapa tahun lalu karena kecelakaan motor di jalan raya Rangkas Bitung. Sejak saat itu Maryam mulai bekerja di warung yang terkenal itu.
Ia tidak memiliki anak. Tidak ada keluarga yang tinggal bersamanya. Ia berasal dari Cianjur. Namun ia jarang terlihat mengeluh tentang hidupnya yang sebatang kara.
Pagi itu, seperti biasa, Maryam sedang sibuk menata piring-piring di etalase ketika beberapa sopir angkot masuk ke warung makan tempatnya bekerja.
“Neng, nasi satu sama ayam ya,” kata salah satu dari mereka.
Maryam mengangguk.
“Iya, tunggu sebentar ya, kang.”
Ia mengambil nasi dari dalam rice cooker besar, lalu menambahkan lauk di atasnya dengan gerakan yang sudah sangat terbiasa. Di meja dekat jendela warung, seseorang sedang duduk sendirian. Edi.
Ia datang hampir setiap pagi sebelum masuk ke showroom. Di hadapannya ada sepiring nasi dengan telur balado, oreg tempe, gorengan dan segelas teh hangat yang uapnya masih tipis.