Rumah kos itu tidak terlalu besar. Bangunannya berdiri di sebuah jalan sempit sekitar dua ratus meter dari Terminal Lama. Jika seseorang berjalan kaki dari showroom menuju jalan itu, ia hanya perlu melewati deretan warung kopi, bengkel kecil, dan toko kelontong yang selalu ramai oleh para sopir dan pedagang.
Jalan tersebut cukup sempit sehingga dua sepeda motor yang berpapasan harus melambat agar tidak saling bersenggolan. Di ujung jalan itulah rumah kos milik Bu Aniah berdiri. Bangunan dua lantai dengan cat krem yang beberapa bulan lalu baru saja di cat ulang, dan kini tampak seperti kos megah lagi. Di lantai bawah terdapat 3 kamar kecil yang berderet memanjang. Sementara di lantai atas ada 3 kamar lain yang biasanya disewa oleh para mahasiswa yang kuliah di kawasan kota Lebak.
Di halaman depan terdapat sumur tua dengan pompa air manual, serta beberapa pot tanaman yang tampak dirawat dengan cukup baik. Rumah itu terasa lebih hidup pada malam hari. Ketika para penghuni kos kembali dari pekerjaan atau kampus, suara televisi dari ruang tengah bercampur dengan suara orang mandi di kamar belakang.
Namun ada satu kamar yang hampir selalu terlihat paling tenang. Kamar paling ujung lantai bawah. Siapa lagi pemiliknya kalau bukan Edi Permana, si karyawan paling santai dan tenang di dunia.
Malam itu, setelah selesai bekerja di showroom, Edi berjalan pulang menyusuri jalan menuju rumah kos tersebut. Lampu-lampu rumah warga sudah mulai menyala. Beberapa orang duduk di depan rumah sambil berbincang santai. Bau masakan dari dapur-dapur kecil menyatu dengan udara malam yang lembap.
Ketika Edi sampai di halaman kos, pintu depan rumah sudah terbuka. Dari dalam terdengar suara televisi yang sedang menayangkan berita malam.
Di kursi rotan ruang tengah, seseorang sedang duduk sambil melipat pakaian.
Bu Aniah. Perempuan itu menoleh ketika mendengar langkah kaki Edi.
“Oh… sudah pulang, Di?”
Edi mengangguk.
“Iya, Bu.”
Bu Aniah berdiri perlahan. Di tangannya ada setumpuk pakaian yang sejak sore sudah ia ambil dari jemuran. Dan baru sempat melipatnya saat itu.
“Capek enggak hari ini?”
“Seperti biasanya, Bu.”
Perempuan itu tersenyum kecil.