Perjalanan dari Terminal Lama menuju kampung Cinangka selalu terasa lebih panjang ketika sore mulai turun.
Jalan yang menghubungkan Rangkas Bitung dengan desa-desa di sekitarnya berkelok melewati hamparan sawah, kebun karet, dan perkampungan kecil yang terlihat semakin sunyi ketika matahari mulai tenggelam.
Hari itu Edi pulang ke Cinangka. Sudah satu bulan lebih ia tidak pulang.
Ia meminjam sepeda motor milik salah satu rekan kerja di showroom dengan alasan ingin menjenguk ibunya. Mesin motor itu berdengung pelan ketika melewati jalan aspal yang mulai retak di beberapa bagian. Angin sore membawa aroma tanah basah dari sawah yang tadi pagi disiram air hujan.
Langit berubah menjadi oranye pucat ketika Edi akhirnya memasuki jalan kecil menuju kampung Cinangka. Rumah-rumah warga berdiri berjajar dengan halaman yang dipenuhi pohon pisang dan tanaman singkong. Beberapa anak kecil masih bermain bola di lapangan tanah dekat mushola kampung.
Tidak ada yang benar-benar memperhatikan ketika Edi melewati mereka. Semua terlihat seperti sore biasa. Namun ketika Edi sampai di depan rumahnya, sesuatu terasa sedikit berbeda. Lampu ruang tamu sudah menyala meskipun langit belum benar-benar gelap. Pintu depan rumah tertutup rapat. Edi mematikan mesin motor dan berdiri sebentar di halaman.
Rumah itu tampak sama seperti terakhir kali ia pulang. Teras kecil dengan kursi plastik di sudutnya. Meja kayu yang biasanya dipenuhi peralatan rias pengantin milik ibunya masih berada di tempat yang sama.
Namun ada sesuatu yang membuat Edi mengerutkan kening. Di halaman rumah, ada sebuah sepeda motor lain yang tidak pernah ia lihat sebelumnya.
Motor itu masih terlihat baru. Cat hitamnya mengilap terkena cahaya senja. Edi menatap kendaraan itu cukup lama. Lalu ia berjalan menuju pintu depan.
Tangannya baru saja menyentuh gagang pintu ketika suara seseorang terdengar dari dalam rumah. Suara laki-laki. Pelan.
Disusul oleh suara lain yang sangat ia kenal. Suara ibunya. Tubuh Edi langsung berhenti bergerak. Ia tidak membuka pintu.