Terminal Lama

Topan We
Chapter #11

Chapter 11

Di kampung Cinangka, kabar tentang seseorang biasanya menyebar lebih cepat daripada angin, lebih melesat daripada cahaya.

Tetangga bisa mengetahui siapa yang baru membeli motor, siapa yang sedang punya masalah rumah tangga, bahkan tahu wanita yang sering pulang larut malam.

Namun anehnya, tidak ada satu pun warga yang benar-benar tahu banyak tentang seorang pemuda bernama Rudi.

Ia bukan penduduk asli kampung itu. Ia juga tidak pernah terlihat bekerja di tempat yang jelas.

Kadang ia muncul di warung kopi dekat jalan desa, kadang terlihat membantu orang dengan memberi sumbangan, namun lebih sering ia hanya duduk santai sambil merokok dan tertawa bersama beberapa pemuda atau bapak-bapak lain.

Meski begitu, Rudi memiliki satu hal yang membuatnya mudah dikenali. Wajahnya. Ia termasuk pemuda yang cukup tampan untuk ukuran kampung. Tubuhnya tegap, kulitnya sawo matang, dan rambutnya selalu dibiarkan sedikit panjang.

Ia berbicara santai dengan siapa saja. Namun tetap saja, tidak ada yang benar-benar mengenalnya lebih jauh. Kecuali satu orang.

Sumiyati.

---

Dua minggu setelah kepulangan Edi yang terakhir, sore itu ia kembali memutuskan pulang ke Cinangka. Langit sudah mulai redup ketika motor yang ia kendarai berhenti di depan rumah. Namun bahkan sebelum mematikan mesin, Edi sudah melihat sesuatu yang membuat dadanya menegang. Motor yang sama. Motor hitam yang pernah ia lihat sebelumnya.

Parkir di halaman rumah. Namun kali ini tidak sendirian. Di depan rumah juga ada seorang pemuda lain yang duduk santai di kursi. Ia tampak menunggu sambil memainkan ponsel di tangannya. Ketika melihat Edi datang, pemuda itu mengangkat kepala. Tatapan mereka bertemu sebentar. Edi turun dari motornya. Langkahnya pelan namun tegas ketika memasuki halaman rumah. Pemuda yang menunggu di depan rumah berdiri.

“Kang?” sapanya santai.

Edi menatapnya dingin.

"Ya.”

Lihat selengkapnya