Pagi itu WMJ sudah kedatangan tamu spesial. Justru bukan Maryam sebagai pekerja yang sudah tiba, tampil disana. Namun kali ini sang preman terminal yang datang lebih awal. Biasanya, Rahmat baru terlihat di sekitar showroom menjelang siang atau sore. Ia datang sekadar duduk di warung depan, berbincang dengan beberapa sopir, atau sesekali membantu mengatur parkir kendaraan yang keluar masuk.
Namun hari itu tidak seperti biasanya. Sejak pagi Rahmat sudah berada di bangku panjang Warung Makan Jumanto.
Rahmat bergeser ke bangku kayu depan showroom, persis di sebelah WMJ yang biasa menjadi tempat para sopir berkumpul. Sebatang rokok terus menyala di tangannya, berganti dengan batang berikutnya.
Matanya sesekali menatap ke arah gerbang showroom. Seolah sedang menunggu seseorang. Atau lebih tepatnya, memantau.
Orang-orang di sekitar terminal mulai menyadari hal itu. Beberapa karyawan showroom juga sempat saling berbisik.
“Tumben kang Rahmat dari tadi di situ terus.”
“Dari pagi?”
“Iya. Ada apa ya?”
Namun tidak ada yang berani bertanya langsung kepadanya. Semua orang di terminal tahu siapa Rahmat. Si preman dari Terminal Lama. Tubuhnya kurus, tapi suaranya keras, dan emosinya tidak selalu bisa ditebak.
---
Sekitar pukul setengah delapan, Edi datang ke showroom seperti biasa. Ia berjalan melewati orang-orang yang berlalu lalang. Menyapa satu sama lain. Begitu ia membuka gerbang showroom, Rahmat mulai bangkit dari duduknya. Rahmat berjalan ke arah Edi. Langkahnya pelan namun berat. Beberapa orang yang melihat langsung merasa ada sesuatu yang tidak beres. Rahmat berhenti tepat di depan Edi.
“Di,” katanya singkat.
Edi menatapnya datar.
“Ada apa?”
Rahmat tidak langsung menjawab. Matanya menatap tajam ke wajah Edi. Beberapa detik mereka hanya saling diam. Lalu Rahmat bertanya dengan suara rendah.
“Sudah sejauh apa hubunganmu sama si Maryam?”
Pertanyaan itu terdengar begitu tiba-tiba. Beberapa karyawan yang sedang berdiri di dekat pintu masuk showroom langsung saling melirik. Edi sedikit mengernyit. Namun ekspresi wajahnya tetap tenang.
“Itu bukan urusan kamu, kang,” jawabnya dingin.
Rahmat menyeringai tipis.
“Bukan urusanku?”