Beberapa hari setelah kejadian tamparan itu, suasana di sekitar terminal berubah. Tidak ada lagi yang benar-benar bersikap biasa kepada Edi. Karena keberaniannya melawan Rahmat, orang-orang masih menyapanya. Masih berbicara dengannya. Namun ada sesuatu yang berbeda di balik tatapan mereka. Bisik-bisik mulai terdengar di beberapa sudut. Terutama di Warung Makan Jumanto.
Warung itu selalu ramai oleh para sopir bus, kernet PS, dan orang-orang yang menunggu kedatangan dan keberangkatan. Di tempat seperti itu, kabar apa pun bisa menyebar dengan cepat. Tentunya ini menjadi gosip yang paling hangat.
Dan kali ini, yang menyebar adalah cerita tentang Edi dan Maryam. Beberapa orang berbicara sambil tersenyum sinis. Beberapa lainnya hanya menggelengkan kepala.
“Pendiam begitu ternyata lebih parah ya.”
“Katanya sering bawa si janda cantik ke kos.”
“Rahmat sendiri yang bilang kemarin.”
Kalimat-kalimat seperti itu sering terdengar di antara meja-meja makan. Maryam tentu mendengarnya. Ia sangat malu. Walau sempat 2 hari setelah kejadian, Maryam tidak keluar rumah dengan alasan tertentu.
Namun pada akhirnya ia tidak lagi pernah menanggapi. Seperti biasa, ia tetap berjalan dari meja ke meja dengan nampan di tangannya.
“Mie goreng satu, Pak.”
“Kopi hitam dua.”
“Sebentar ya, Pak.”
Suaranya tetap lembut. Sikapnya tetap profesional. Namun orang yang memperhatikannya dengan saksama bisa melihat sesuatu yang berbeda. Maryam kini lebih banyak diam. Ia tidak lagi terlalu lama mengobrol dengan para pelanggan seperti dulu. Ia bekerja. Melayani. Lalu kembali ke dapur. Seolah-olah berusaha menjauh dari semua pembicaraan yang beredar.
---