Kabar buruk menyebar dengan kecepatan yang tak lazim, melampaui apa yang biasanya terjadi.
Di terminal, di warung kopi, bahkan di lorong-lorong kecil menuju kampung Cinangka. Orang-orang mulai berbicara dengan lantang. Beberapa dengan wajah tegang.
Beberapa lainnya dengan rasa penasaran yang tidak bisa mereka sembunyikan. Seorang pria ditemukan tewas. Tubuhnya dalam kondisi yang mengerikan. Namanya Rudi.
---
Mayat itu ditemukan di sebuah jalan hutan yang jarang dilalui orang. Letaknya cukup jauh dari keramaian. Setengah arah menuju Terminal Lama, dan setengah lagi menuju kampung Cinangka.
Jalan kecil yang biasanya hanya dilewati oleh warga yang benar-benar tahu daerah itu. Seorang pencari kayu yang pertama kali menemukannya.
Awalnya ia mengira itu hanya tumpukan karung yang dibuang. Namun ketika ia mendekat, tubuhnya langsung kaku.
Ia berlari kembali ke kampung dengan wajah pucat. Beberapa warga lalu datang untuk memastikan. Dan setelah melihat kondisi tubuh itu, tidak ada yang berani menyentuhnya.
Polisi dipanggil.
Tak lama kemudian beberapa mobil polisi datang ke lokasi. Garis kuning dipasang. Petugas mulai bekerja. Mereka memeriksa tanah. Mencatat posisi tubuh. Mencari jejak yang mungkin tertinggal di sekitar tempat itu. Kasus itu langsung dianggap serius.
Karena kondisi tubuh korban menunjukkan sesuatu yang jelas. Ini bukan kematian biasa.
---
Berita itu sampai ke telinga banyak orang di terminal. Namun tidak banyak yang benar-benar mengenal Rudi. Ia memang sering terlihat di sekitar terminal. Kadang hanya untuk berbelanja. Kadang menghilang beberapa hari. Tidak ada yang benar-benar tahu dari mana asalnya. Hanya satu orang yang mengetahui hal itu dengan pasti. Sumiyati, ibu Edi.
---