Kematian Rudi menjadi pembicaraan di mana-mana. Di beberapa warung kopi, di terminal lama, juga di pasar kecil yang berada di ujung jalan menuju kampung Cinangka. Semua orang membicarakannya. Berita itu bahkan mulai menyebar ke kota-kota sekitar. Banyak orang datang hanya untuk mendengar cerita yang sebenarnya belum tahu siapa pelaku dan apa motif pembunuhan itu. Beberapa mengatakan pembunuhan itu dilakukan oleh kelompok kriminal. Beberapa lainnya yakin itu adalah pelaku individu yang memiliki dendam. Namun satu hal yang pasti. Cara kematian Rudi membuat orang-orang merasa ngeri. Tidak ada yang benar-benar tahu siapa sebenarnya Rudi. Ia bukan orang yang biasa nongkrong di kawasan Terminal Lama. Ia tidak bekerja di sana. Ia juga tidak terlihat memiliki hubungan dengan orang-orang di terminal. Ia seperti orang luar yang tiba-tiba muncul dalam cerita buruk itu.
Ironisnya, satu-satunya alasan orang-orang mengenalnya sekarang adalah karena cara ia meninggal .
---
Di Abadi Jaya Rangkas, tempat Edi bekerja, suasana juga tidak jauh berbeda. Beberapa karyawan berkumpul di dekat meja servis sambil berbicara dengan suara setengah berbisik.
“Katanya mayatnya ditemukan di jalan pinggir hutan.”
“Iya, jalan utama, ke arah kota Rangkas padahal ”
“Ada yang bilang tubuhnya sudah… dipotong-potong.”
Salah satu dari mereka menggeleng pelan.
“Gila juga yang ngelakuin.”