Beberapa hari sebelumnya Edi sudah janji akan datang ke rumah Maryam. Rumah kecil di jalan sempit dekat kawasan Terminal Lama. Lampu ruang tamu menyala redup, hanya cukup menerangi sebagian ruangan. Edi membawa sebuah tas kecil. Di dalamnya ada sesuatu yang sudah ia siapkan sejak beberapa hari lalu. Ia ingin memberi kejutan. Ketika Maryam membuka pintu, Edi langsung menyadari sesuatu yang berbeda. Biasanya Maryam akan tersenyum ketika melihatnya. Namun malam itu tidak. Wajah wanita itu terlihat pucat. Matanya tampak lelah. Seperti seseorang yang sedang memikirkan sesuatu yang berat.
“Malam, sayang,” kata Edi pelan.
"Kamu sakit?"
Maryam mencoba tersenyum.
“Malam. Enggak. Cuma agak capek aja.”
Mereka duduk di atas kasur di kamar Maryam. Suasana terasa lebih sunyi saat kedua mata mereka saling pandang satu sama lain. Edi memperhatikan wajah Maryam beberapa saat.
“Capek banget hari ini? Sampe kamu murung begini. Kalau ada masalah ngomong aja. Kenapa?” tanyanya.
Maryam menggeleng pelan.
“Enggak apa-apa.”
Namun Edi tahu itu bukan jawaban sebenarnya. Beberapa detik kemudian ia membuka tas kecil yang ia bawa.
“Sebentar,” katanya.
Maryam memperhatikan ketika Edi mengeluarkan sebuah kotak kecil dari dalam tas itu. Ketika kotak itu dibuka, terlihat sebuah cincin di dalamnya. Maryam sempat terkejut, namun ia tak bereaksi apapun. Matanya menatap benda kecil itu dengan perasaan yang sulit dijelaskan.
“Aku bawa ini buat kamu,” kata Edi.
Namun bukannya terlihat bahagia, wajah Maryam justru semakin gelisah. Tangannya saling menggenggam di pangkuan. Ia terlihat seperti seseorang yang sedang berusaha mengatakan sesuatu.
“Di…,” katanya pelan.
Edi menatapnya.
“Ada apa?”
Maryam menarik napas panjang.
“Hubungan kita…”
Ia berhenti di tengah kalimatnya. Pikirannya penuh dengan suara-suara orang di terminal. Bisikan-bisikan. Cibiran. Cerita tentang hubungan gelap mereka yang kini sudah menyebar di mana-mana.
Namun satu hal yang paling menyakitkan adalah kenyataan bahwa ia sudah terlalu dalam mencintai Edi. Maryam menunduk.
“Orang-orang sudah banyak ngomongin kita...”