Dua hari terakhir, kawasan Terminal Lama terasa lebih gelisah dan penuh kekhawatiran. Orang-orang berbicara dengan lebih hati-hati.
Di WMJ tidak pernah sepi dari bisikan dan gosip-gosip baru. Dan di setiap sudut, nama yang sama terus disebut ialah Rahmat. Preman yang selama ini dikenal hampir semua orang di kawasan terminal itu tiba-tiba menghilang. Tidak ada yang tahu ke mana ia pergi. Anak buahnya mulai mencari sejak dua hari yang lalu. Mereka mendatangi warung-warung. Menanyakan kepada beberapa sopir. Bahkan ada yang sampai mendatangi rumah orang-orang yang biasa berurusan dengan Rahmat. Namun hasilnya tetap sama. Tidak ada yang tahu. Tidak ada yang melihat 2 hari terakhir ini. Rahmat seperti lenyap begitu saja.
---
Tentunya berita itu cepat menyebar. Di pasar, di pangkalan ojek juga di area alun-alun kota. Setiap orang memiliki pendapatnya sendiri.
“Kayaknya si Rahmat di culik polisi.”
“Bisa jadi dia dibunuh.”
“Ah… paling juga kabur.”
Pendapat terakhir justru paling sering terdengar. Beberapa orang mengatakan bahwa Rahmat akhir-akhir ini punya masalah dengan beberapa pedagang di pasar.
Ada juga yang bilang ia terlibat urusan uang dengan orang-orang yang tidak seharusnya.
“Rahmat itu kebanyakan musuh,” kata seorang sopir sambil menyeruput kopi.