Bau itu datang lebih dulu sebelum siapa pun menyadari ada yang tidak beres. Tipis pada awalnya—hampir seperti sesuatu yang membusuk perlahan di balik dinding tua—lalu merambat, menebal, dan akhirnya menetap di udara seperti peringatan yang tak bisa diungkapkan.
Di kawasan Terminal Lama, hal-hal aneh bukan sesuatu yang mengejutkan. Namun kali ini, ada sesuatu yang terasa jauh lebih berbeda. Lebih berat dan lebih mengganggu.
Seorang tukang parkir yang baru saja membuka warung kecil di deretan ruko tua menjadi orang pertama yang benar-benar terganggu oleh bau itu. Bahkan ialah yang menjadi awal pembuka.
Tanpa banyak berpikir, ia memanggil dua orang temannya yang biasa mangkal tak jauh dari situ.
“Coba ke sini sebentar,” katanya, suaranya lebih pelan dari biasanya.
Keduanya datang dengan langkah santai, namun ekspresi mereka berubah begitu ikut mencium bau itu.
“Sial… ini bukan bau biasa,” salah satu dari mereka berbisik.
Mereka saling pandang, seolah menyepakati sesuatu tanpa perlu diucapkan. Lalu bersama-sama berjalan mendekati salah satu ruko yang pintunya tertutup rapat.
Pintu kayu itu tampak tua dan berat. Salah satu dari mereka mencoba mendorongnya perlahan. Berderit. Suara itu panjang, nyaring, dan terasa mengganggu dalam keheningan yang tiba-tiba menyelimuti mereka. Pintu terbuka sedikit demi sedikit. Cahaya dari luar merayap masuk, memotong kegelapan di dalam ruangan.
Dan pada detik berikutnya—ketiganya membeku. Lalu mundur hampir bersamaan. Wajah mereka seketika pucat, napas tercekat, dan salah satu dari mereka bahkan menutup mulutnya dengan tangan, menahan dorongan untuk muntah.
Di lantai ruko yang gelap dan berdebu itu, tergeletak sesosok tubuh manusia. Sudah tak bergerak. Bahkan sudah tidak bernyawa.
Kondisinya jauh dari kata layak disebut utuh. Tubuh itu dipenuhi luka, sebagian menganga, sebagian menghitam seperti bekas hantaman berulang. Pakaiannya kotor dan robek di berbagai bagian.
Namun yang paling mengganggu adalah wajahnya. Hampir tak bisa dikenali. Seolah-olah seseorang dengan sengaja merusaknya. Salah satu dari mereka memberanikan diri melangkah sedikit lebih dekat, meski kakinya tampak gemetar.
Ia memperhatikan lebih seksama. Ada sesuatu yang familiar. Rahang yang sedikit menonjol. Bekas tato samar di leher. Potongan rambut yang meski berantakan, masih menyisakan ciri khas. Dan dalam hitungan detik, kesadaran itu menghantamnya.
“Itu… Rahmat.”
Kalimat itu keluar nyaris seperti bisikan, namun cukup untuk membuat dua lainnya saling menatap dengan ketakutan yang sama.
Rahmat. Nama yang tidak lagi asing di kawasan Terminal Lama. Preman yang selama ini dikenal keras, disegani, dan tidak mudah disentuh siapa pun. Kini tergeletak tanpa daya. Menjadi sesuatu yang bahkan sulit disebut manusia.
Kabar itu menyebar lebih cepat cahaya. Dalam waktu singkat, orang-orang mulai berdatangan dari berbagai arah. Warung-warung yang biasanya dipenuhi obrolan santai berubah menjadi pusat bisikan dan spekulasi.
Beberapa orang berdiri di kejauhan, mencoba mengintip ke dalam ruko. Sebagian lain memilih menjaga jarak, namun tetap tidak bisa menyembunyikan rasa penasaran.