Aktivitas tetap berjalan. Bus datang dan pergi, suara mesin bergemuruh seperti biasa, para penumpang berlalu-lalang tanpa benar-benar peduli. Namun di balik semua itu, ada sesuatu yang berubah. Yaitu rasa waspada. Rasa yang tidak terlihat, tapi terasa di setiap sudut.
Garis polisi masih membentang di depan ruko tua itu, layaknya luka yang belum saja sempat ditutup. Beberapa petugas terus keluar-masuk, membawa kamera, kantong barang bukti, serta peralatan lain yang diperlukan untuk mengurai apa yang terjadi.
Kerumunan masih setia berdiri di kejauhan. Mereka tidak lagi seramai sebelumnya, namun bisikan tidak akan pernah berhenti. Setiap orang memiliki versi cerita masing-masing. Dugaan, asumsi, bahkan cerita yang dilebih-lebihkan. Namun bagi para petugas, semua itu tidak lebih dari kebisingan. Yang mereka cari hanya satu hal—jawaban.
Di dalam ruko, udara terasa pengap. Bau samar yang sebelumnya menyengat kini bercampur dengan aroma bahan kimia dari peralatan forensik. Cahaya dari luar masuk terbatas, menciptakan bayangan-bayangan panjang di lantai berdebu. Tubuh Rahmat masih berada di tempatnya, kini sebagian tertutup kain putih. Dua orang penyidik berdiri di dekatnya. Salah satu dari mereka berjongkok, membuka sedikit penutup itu, lalu memperhatikan kondisi korban dengan saksama. Sorot matanya tajam, bergerak dari satu luka ke luka lain.
“Lihat bagian ini,” ucapnya pelan.
Rekannya mendekat, ikut menunduk. Lebam tampak hampir di seluruh tubuh. Wajah, dada, lengan—tidak ada bagian yang benar-benar luput. Warna kehitaman bercampur kemerahan, menunjukkan kekerasan yang terjadi bukan sekali atau dua kali.
“Kelihatannya dikeroyok,” ujar salah satu petugas lain dari belakang.
Nada suaranya terdengar cukup yakin. Namun penyidik yang berjongkok itu tidak langsung mengiyakan. Ia menggeleng pelan.
“Belum tentu.”
Kalimat itu membuat beberapa orang di ruangan menoleh. Ia menunjuk ke beberapa titik luka yang tampak lebih parah dibanding yang lain.
“Memang jumlah lukanya banyak,” lanjutnya, “tapi polanya tidak berantakan.”
Rekannya memperhatikan lebih serius.
“Kalau ini hasil pengeroyokan,” tambahnya, “biasanya bekasnya lebih acak. Tidak terarah.”
Ia menggeser sedikit posisi tangannya, menunjuk area dada.
“Ini… berulang di titik yang sama.”
Suasana menjadi lebih hening. Petugas pertama mengerutkan kening.
“Jadi menurutmu?”
Penyidik itu berdiri perlahan, menghela napas sebelum menjawab.
“Ada kemungkinan ini dilakukan satu orang.”
Kalimat itu jatuh seperti beban. Beberapa petugas saling bertukar pandang.
“Satu orang?” ulang salah satunya, tidak sepenuhnya percaya.
“Iya.”
Ia menatap kembali tubuh Rahmat sejenak.
“Kalau orang itu cukup kuat…” katanya pelan, “dan bahkan pada tingkat emosi seperti ini, ia lebih mengerikan.”