Terminal Lama

Topan We
Chapter #24

Chapter 24

Ia tidak datang dengan tanda yang jelas. Tidak pula membawa peristiwa besar yang mudah dikenali. Perubahan itu hadir perlahan menyelinap di sela rutinitas, bersembunyi di balik kebiasaan yang tampak sama.

Sejak percakapan di belakang showroom itu, sesuatu mulai bergeser. Tipis. Hampir tak terasa. Namun cukup untuk saling mengganggu ketidaknyamanan.

Mahdi tidak melakukan apa pun yang mencolok. Ia tetap bekerja seperti biasa—membersihkan lantai, merapikan area parkir, membantu memindahkan barang ke gudang. Ia masih tersenyum ketika berbicara dengan karyawan lain, masih terlibat dalam obrolan ringan yang tak berarti. Semua terlihat normal. Normal saja.

Namun ada satu hal yang perlahan berubah. Yaitu arah perhatiannya. Awalnya hanya sekilas. Tatapan singkat yang muncul dan hilang dalam hitungan detik. Saat mereka sama-sama mendorong ember air ke belakang. Saat menyapu lantai di sisi yang berbeda. Atau ketika duduk berjarak, menunggu waktu pulang dengan tubuh lelah dan pikiran yang semerawut.

Mahdi tidak pernah menatap lama. Tidak untuk membuat seseorang akan menyadarinya. Namun cukup sering untuk membuat seluruh teka-teki di dalam kepalanya menjadi tanda. Dan tanda itu… selalu kembali pada orang yang sama, yaitu Edi.

Edi juga bukan tipe orang yang mudah melewatkan hal-hal detail. Ia mungkin tidak banyak bicara, tapi bukan berarti ia tidak memperhatikan. Justru sebaliknya—ia terbiasa membaca situasi tanpa harus terlibat langsung.

Dan beberapa hari terakhir, bahkan jauh sebelumnya, ada sesuatu yang mulai terasa ganjil.

Beberapa kali, ia merasakan hal yang sama. Perasaan seperti sedang diperhatikan. Bukan sekadar dilihat. Tapi juga diamati.

Ia pernah merasakannya saat sedang mencuci alat pel di belakang. Saat ia menoleh, Mahdi berdiri tak jauh darinya—memegang ember, ekspresinya datar, seolah tidak terjadi apa-apa.

Di lain waktu, saat mereka duduk di bangku kayu, menunggu giliran pulang, Edi kembali merasakan hal itu. Tatapan yang datang tanpa suara, lalu menghilang begitu saja ketika ia mencoba memastikan. Selalu seperti itu. Perasaan itu tetap menetap. Seperti sesuatu yang sengaja dibiarkan menggantung.

Malam merayap tanpa suara di sebuah jalan sempit yang jarang dilewati banyak orang.

Di ujung jalan itu, berdiri sebuah kontrakan kecil yang sudah berdiri selama belasan tahun. Tidak ada tanda kehidupan yang mencolok dari luar—hanya cahaya lampu yang tembus melalui celah jendela.

Di dalamnya, Mahdi duduk sendiri. Ruangan itu sederhana. Sebuah meja kayu kecil, kursi tua, dan beberapa barang yang tersusun rapi tanpa banyak hiasan. Tidak ada yang berlebihan. Seperti pemiliknya.

Di atas meja, beberapa lembar kertas terbentang. Kosong. Sebuah pena berada di tangan Mahdi. Ia memegangnya dengan tenang, lalu mulai menulis.

Lihat selengkapnya