Biasanya, sebelum kursi-kursi terisi dan suara pesanan bersahutan, sudah ada satu sosok yang lebih dulu hadir—bergerak cepat, menata, memastikan semuanya siap. Ritmenya nyaris tak pernah berubah. Namun hari itu, hadirnya masih ditunggu oleh beberapa pelanggan setia.
Di Warung Makan Jumanto, satu kursi kasir dibiarkan kosong, menunggu pemiliknya tiba. Namun Maryam belum datang.
Awalnya tak ada yang benar-benar mempermasalahkan. Keterlambatan kecil masih dianggap wajar. Barangkali ada urusan mendadak, atau sekadar bangun kesiangan.
Piring-piring tetap disusun. Meja-meja tetap dilap oleh dua perempuan anak pemilik warung terkenal itu. Dapur tetap mengepul seperti biasa. Namun waktu berjalan tanpa kompromi. Jarum jam sudah melewati angka sembilan. Dan kursi kasir itu masih belum terisi.
Bu Encum, anak pemilik warung mulai melirik ke arah pintu lebih dari tiga kali. Setiap kali ada orang masuk, harapannya sempat muncul—lalu hilang begitu saja.
Akhirnya ia meraih ponsel. Nama Maryam ditekan. Nada sambung terdengar. Sekali. Dua kali. Lalu terus berdering tanpa jawaban. Ia mencoba lagi. Hasilnya sama. Pesan dikirim—singkat, menanyakan kabar. Tidak dibaca dan tidak dibalas.
Ada jeda kecil sebelum ia mencoba untuk ketiga kalinya, seolah berharap hasilnya akan berbeda. Namun tetap saja sama.
Keramaian datang seperti biasa, tanpa peduli siapa yang hadir dan siapa yang tidak.
Menjelang siang, warung mulai dipenuhi sopir dan pekerja terminal. Kursi-kursi terisi, suara obrolan kembali memenuhi ruangan.
Namun di tengah semua itu, satu pertanyaan mulai muncul.
“Si neng Maryam belum kelihatan?”
Nada yang awalnya santai berubah sedikit lebih serius. Anak pemilik warung menggeleng.
“Dari tadi pagi enggak bisa dihubungi.”
Beberapa orang saling pandang. Tidak ada yang langsung bicara, tapi pikiran mereka tampak bergerak ke arah yang sama.
Di tempat seperti ini, ketidakhadiran tiba-tiba jarang dianggap sepele—terutama setelah apa yang terjadi belakangan ini.
Kejadian buruk sebelumnya masih menghantui orang-orang sekitar terminal. Dan kabar yang belum saja terbalas dari Maryam kini membuat 2 pewaris warung itu gelisah. Dan rasa seperti itu biasanya… datang tanpa peringatan.
Bu Encum mulai bertanya ke beberapa orang yang mengenal Maryam. Namun jawaban yang ia dapatkan tidak membantu rasa khawatirnya hilang. Tidak ada yang melihatnya sejak kemarin sore. Tidak ada yang tahu ia pergi ke mana.
Pertanyaan demi pertanyaan justru membuka ruang kosong yang lebih besar. Sampai akhirnya, pandangannya berhenti pada satu orang yang baru saja tiba dan duduk agak menyendiri.
Edi. Pria itu sedang menunggu sarapannya, gerakannya tenang seperti biasa. Tidak tergesa, tidak pula lambat.
“Kamu tahu Maryam ke mana?” tanya Bu Encum.
Edi mengangkat kepala pelan.
“Enggak tahu.”
Jawabannya singkat.
“Sudah coba hubungi?”
“Sudah.”
“Sejak kapan enggak ketemu?”
Edi mengangkat bahu sedikit.
“Beberapa hari ini jarang ketemu.”