Terminal Lama

Topan We
Chapter #26

Chapter 26

Batas yang selama ini dijaga Edi tidak pernah ia ucapkan, tapi semua orang bisa merasakannya.

Ia bekerja. Ia pulang. Dan di antara dua hal itu, ia menjaga jarak dari siapa pun yang mencoba masuk ke kehidupannya lebih jauh.

Selama hampir satu tahun tinggal di kawasan Terminal Lama, tidak banyak yang benar-benar mengenalnya. Ia tidak menolak siapapun, tapi juga tidak membuka diri. Percakapan cukup sebatas perlu. Tidak lebih.

Dan satu hal yang selalu konsisten—tidak ada satu pun rekan kerjanya yang pernah masuk ke kamar kosnya. Kecuali satu orang yaitu Maryam. Itu pun bukan sesuatu yang sering terjadi. Namun hari itu, batas itu diuji. Mahdi mengatakannya tanpa banyak basa-basi.

“Di… boleh main ke kos kamu?”

Kalimatnya ringan. Hampir seperti candaan. Namun bagi Edi, itu terasa berbeda. Seperti sesuatu yang terlalu tepat sasaran. Ia menoleh pelan, menatap Mahdi beberapa detik tanpa bicara.

“Ada apa?” tanyanya singkat.

Mahdi tersenyum tipis.

“Enggak ada. Pengen lihat tempat kamu tinggal aja. Masa enggak boleh?”

Nada suaranya santai. Tidak terdengar menekan. Juga tidak terdengar memaksa. Justru itu yang membuatnya terasa tidak biasa.

Di dalam kepala Edi, kemungkinan mulai bermunculan. Mahdi bukan orang yang asal bicara. Permintaan ini… tujuannya untuk mencari tanda-tanda pada dirinya. Langkah untuk masuk lebih dalam.

Namun menolak bukan pilihan yang aman. Penolakan itu justru akan menciptakan pertanyaan. Dan pertanyaan akan membuka banyak hal. Edi menarik napas pelan.

“Ya sudah.”

Jawabannya singkat. Mahdi mengangguk, seolah memang sudah tahu ke mana arah percakapan ini akan berakhir.

Selepas jam kerja di Abadi Jaya Rangkas Showroom, mereka berjalan beriringan meninggalkan tempat itu.

Langit mulai meredup, menyisakan warna abu yang perlahan tenggelam. Lampu jalan menyala satu per satu, memantulkan cahaya kuning yang redup di permukaan aspal.

Sepanjang perjalanan, percakapan hanya muncul sesekali. Singkat. Tidak penting. Lalu hilang begitu saja.

Namun diam di antara mereka bukanlah keheningan biasa. Ada sesuatu yang bergerak—diam-diam—di dalam pikiran masing-masing. Mereka berjalan berdampingan, tapi tidak terasa bersama.

Bangunan kos itu berdiri diantara area Terminal Lama yang banyak melahirkan kenangan.

Dua lantai, catnya mencolok sendiri dengan lorong sempit yang selalu terasa sunyi meski tidak pernah kosong.

Namun sebelum mereka masuk, langkah Mahdi sempat terhenti. Di depan pintu, berdiri seorang perempuan tua, bu Aniah. Tatapannya tenang, tapi tidak sekadar melihat. Lebih seperti memperhatikan.

Lihat selengkapnya