Kabar itu datang bersama dingin yang masih menyelinap di balik dinding-dinding bangunan tua di Terminal Lama.
Ketika seorang ibu yang hendak membeli sayur melihat kerumunan di ujung gang. Belum genap beberapa menit, seorang tukang ojek yang melintas ikut berhenti. Dari satu mulut berpindah ke mulut lain, kabar itu menyebar tanpa perlu dipastikan lagi kebenarannya.
H. Jupri meninggal.
Berita itu bergerak lebih cepat daripada kendaraan pertama yang berlalu lalang disana. Dalam hitungan menit, hampir setiap warung sudah membicarakannya. Orang-orang saling bertanya, saling menebak, lalu menyampaikan ulang cerita yang bahkan belum selesai mereka dengar.
Nama H. Jupri bukan lagi nama asing.
Ia belakangan, orang lebih sering melihatnya melakukan sesuatu yang tidak biasa.
Ia datang ke Warung Makan Jumanto.
Bukan sekali. Bukan pula sekadar mampir untuk makan.
Ia kerap menghabiskan waktu tanpa banyak bicara, memperhatikan orang-orang yang datang dan pergi, hanya pernah 2 kali berbincang dengan anak pakde Jumanto atau beberapa sopir angkot. Pertanyaannya hampir selalu berakhir pada nama yang sama. Yaitu Maryam dan Edi.
Tak seorang pun benar-benar memahami alasan lelaki tua itu begitu amat tertarik mencari tahu tentang sosok yang tampak biasa tersebut.
Kini, semua pertanyaan itu berhenti bersama napas terakhirnya.
---
Rumah H. Jupri pagi itu dipenuhi warga.
Beberapa berdiri di halaman sambil berbisik. Sebagian lain hanya memandangi pintu rumah yang terbuka lebar. Tak ada yang berani masuk lebih jauh. Mereka seolah memberi jarak kepada kematian yang masih terasa begitu dekat.
Suara sirene terdengar samar dari kejauhan. Mobil polisi berhenti di depan rumah.
Dua petugas turun, diikuti seorang penyidik yang segera meminta warga memberi jalan. Salah seorang tetangga mendekat, wajahnya masih pucat.
“Subuh tadi lampunya masih menyala,” katanya.
Petugas mencatat.
“Biasanya?”
“Biasanya sudah gelap sebelum jam sebelas malam. Makanya kami heran.”
Ia menelan ludah sebelum melanjutkan.
“Tadi kami panggil-panggil, tidak ada jawaban. Akhirnya pintunya kami dorong... ternyata tidak dikunci.”
“Lalu?”
“Pas masuk... beliau sudah tergeletak.”
Percakapan terputus begitu saja. Dengan sarung tangan yang sudah terpasang, petugas menyusuri bagian dalam rumah.
Tubuh H. Jupri terbujur kaku di lantai. Wajahnya membeku dalam ekspresi yang sulit dijelaskan, seolah sempat merasakan sesuatu yang sangat menyakitkan sebelum semuanya berakhir.
Di beberapa bagian tubuhnya tampak bekas luka berwarna kehitaman. Kulit di telapak tangan dan lengan terlihat gosong, sementara jari-jarinya masih sedikit menggenggam.
Salah seorang petugas mengamati sekeliling ruangan. Pandangannya berhenti pada instalasi listrik di dekat dinding.
Ada kabel yang lapisan pelindungnya terkelupas. Ujung tembaganya tampak terbuka. Ia berjongkok, memperhatikannya beberapa detik.
“Ini harus diperiksa,” ucapnya.
Petugas lain mengangguk. Seorang warga yang berdiri di ambang pintu berkata lirih,
“Kayaknya kesetrum, Pak.”
Beberapa orang langsung mengiyakan.
“Iya... mungkin lagi benerin listrik.”
“Atau tidak sengaja pegang kabel.”