"Sial..." gumam Edi lirih. Ia kembali memijat pelipis ketika denyutan itu mulai menjalar ke belakang kepalanya.
Suara kendaraan yang sesekali melintas terdengar jauh, seolah tertahan oleh dinding kamar kos yang sempit itu terasa bertambah pengap. Lampu gantung memancarkan cahaya kekuningan. Tidak terang. Tidak juga redup. Cukup untuk membuat bayangan di sudut-sudut ruangan tampak hidup.
Edi duduk di tepi ranjang. Kedua telapak tangannya menekan pelipis. Denyut itu datang lagi.
Awalnya kecil. Lalu perlahan menjalar hingga ke belakang kepala.
Ia memejamkan mata beberapa saat, berharap rasa itu berlalu seperti malam-malam sebelumnya. Namun rasa sakit itu tetap tinggal. Ia membuka laci kecil di samping tempat tidur.
Sebuah botol obat. Satu teguk air mengiringi obat itu turun ke tenggorokannya.
Tangannya menutup laci perlahan. Kesunyian itu kembali memenuhi kamar, hanya dipecah oleh detak jarum jam yang terasa begitu jelas.
Tik.....Tik.....Tik...
Edi mengembuskan napas panjang. Perlahan, rasa sakit itu mulai berkurang tekanannya. Tidak hilang sepenuhnya, tetapi cukup membuatnya bisa berdiri.
Ia berjalan menuju cermin yang tergantung di dinding. Langkahnya lamban. Berhenti tepat di depannya. Tatapan mereka bertemu. Sudah berapa lama ia melihat wajah itu setiap Subuh?
Namun malam ini terasa berbeda. Entah karena bayangan di belakangnya, atau entah karena matanya sendiri yang kini tampak asing.
Ia mengangkat tangan. Bayangan di cermin melakukan hal yang sama. Tidak ada yang aneh. Tetapi perasaannya mengatakan sebaliknya.
"Aku kenapa..."
Suara itu hampir tidak terdengar.
Ia terus menatap. Mencari sesuatu. Bekas luka atau suatu perubahan. Apapun itu yang membuatnya sesekali berhenti berfikir.
Namun yang ditemukannya hanyalah wajah yang sama. Wajah yang tidak mampu memberinya jawaban.
Rahmat. Nama itu muncul begitu saja. Disusul Haji Jupri dan Rudi. Lalu Maryam.
Keempat nama itu datang silih berganti seperti seseorang sedang membalik halaman demi halaman di dalam kepalanya.
Ia mencoba mengingat percakapan terakhir dengan Rahmat. Tapi tidak utuh. Yang muncul hanya potongan-potongan saja. Suara kendaraan, asap rokok, dan tawa keras seseorang. Lalu kosong kembali.
Ia memaksa mengingat Haji Jupri dan Rudi. Yang muncul hanya bayangan langkahnya.
Maryam. Wajah perempuan itu muncul paling jelas. Namun anehnya, justru setelah itu semuanya mengabur. Seolah ada tangan yang sengaja menghapus bagian-bagian tertentu dari ingatannya.
Denyutan itu datang lagi. Lebih kuat. Edi memegang sisi kepalanya.
"Enggak..."
Ia menggeleng pelan.
"Enggak mungkin..."
Ia kembali menatap cermin.
Tatapan di balik kaca itu terasa lebih tajam. Dan lebih dingin.
Untuk sesaat ia seperti melihat seseorang yang sedang mengawasinya.
Lalu semuanya kembali normal.
"Apa..."
Kalimatnya terhenti.