Terminal Lama

Topan We
Chapter #31

Chapter 31

Pintu ruang kerja Pak Hilman terbuka.

"Masuk, Di."

Edi membuka pintu, lalu menghampiri kursi di depan meja Pak Hilman.

Beberapa berkas terbuka di depan Pak Hilman, tetapi tak satu pun sedang ia baca.

"Duduk."

Edi menarik kursi. Tak ada yang langsung berbicara. Pak Hilman menyatukan kedua tangannya di atas meja. Tatapannya sesekali beralih ke jendela sebelum akhirnya kembali kepada Edi.

"Akhir-akhir ini keadaan di sekitar kita lagi enggak baik."

Edi hanya mendengarkan.

"Rahmat meninggal."

Pak Hilman berhenti sejenak.

"Haji Jupri juga baru meninggal."

Kalimat berikutnya keluar lebih pelan.

"Maryam belum ditemukan sampai sekarang."

Edi mengangguk singkat saja.

"Saya dengar."

Pak Hilman menarik map di depannya, lalu menutupnya kembali tanpa membuka isi di dalamnya.

"Yang kemarin..."

Ia memilih kata-katanya.

"...di kantor polisi."

Edi menunggu.

"Udah selesai?"

"Sudah, Pak."

Pak Hilman mengembuskan napas sebelum kembali membuka suara. Keduanya kembali larut dalam diam. Kipas angin berputar pelan di langit-langit.

"Di...."

"Iya, Pak."

"Saya cuma mau bilang satu hal."

Tatapan mereka bertemu.

"Saya tidak pernah percaya pada orang. Termasuk percaya padamu."

Edi tidak langsung merespons.

"Saya lihat sendiri kamu kerja sudah setahun di sini. Dan...."

Pak Hilman menggeleng pelan.

"Rasanya bukan kamu."

Edi menurunkan pandangan sesaat.

"Iya, Pak."

"Kalau ada apa-apa..."

Pak Hilman berhenti.

"...hubungi saya."

Edi mengangguk.

"Iya, Pak. Terima kasih."

Pak Hilman berdiri lebih dulu.

Percakapan selesai. Namun tidak satu pun dari mereka benar-benar merasakan lega.

---

Pukul 16.17 WIB...

Lihat selengkapnya