Terminal Lama

Topan We
Chapter #4

Catatan : Narti

Malam itu, lampu-lampu kendaraan yang masih parkir memantulkan cahaya kekuningan ke tembok kost. Suara kenek yang bercanda, bunyi dongkrak beradu, dan tawa perempuan dari warung kopi menembus dinding kamar Edi seperti bisikan samar. Tapi di dalam kamarnya, udara terasa lebih berat dari biasanya.

Edi duduk di meja kecil, membalik halaman buku catatan bergaris yang mulai menguning.

Tulisan tangannya rapi, teratur, setiap huruf berdiri sejajar. Tidak ada goresan emosi di sana, hanya barisan kalimat yang dingin seperti laporan.

Di halaman ke 42 tertulis:

Hari ke-42. Terminal tetap ramai. Bus Primajasa terakhir berangkat pukul 23.48. Cuaca : gerah, aroma terasi. Derit kipas angin di dapur. Narti batuk ringan 3 kali.

Ia berhenti sejenak, lalu menulis lagi.

Ngobrol dengan Narti. Ia tampak letih. Mengeluh tentang suami. Sedikit mendesah. Tangan halus, bau sabun mandi melati. Aroma nafasnya wangi sekali. Tidak berontak saat dipeluk. Ia takut, malu dan bingung.

Ia menatap catatan itu cukup lama, lalu menggarisbawahi kata "malu."

Setelah itu, ia menulis satu kalimat pendek di bawahnya, seolah menyimpulkan hasil pengamatan:

Malu = bentuk kejujuran paling murni.

Ia menutup bukunya perlahan, lalu menatap sekeliling kamar. Di pojok dekat jendela ada ember kecil berisi air yang sudah keruh, sisa air hujan yang menetes dari atap yang bocor dan sudah rapuh itu.

Namun, semuanya tampak bersih, steril, bahkan terlalu bersih untuk ukuran kamar kost di kawasan terminal. Edi tidak tahan melihat benda yang tidak pada tempatnya. Ia berdiri, menyapu pandangan ke setiap sudut. Setelah yakin semuanya tepat, ia kembali duduk di tepi ranjang.

Tangannya terangkat, menyentuh dinding yang penuh bercak lembap. Ia menelusuri garis air yang membentuk pola tak beraturan, lalu tersenyum samar seolah menemukan makna tersembunyi di sana.

Ia menatap jendela. Di luar, lampu bus berpendar samar, memantulkan bayangan ke wajahnya.

Dalam pantulan kaca, matanya tampak hidup, bukan karena semangat, tapi karena ketertarikan yang aneh terhadap segala sesuatu yang rusak.

Lihat selengkapnya