Bukan karena Cindy tidak ingin berteriak, melainkan karena ruang sempit itu telah berubah menjadi ruang sunyi yang dipaksakan. Udara di kamar kost Edi terasa berbeda, lebih berat, lebih pengap, seolah setiap tarikan napas Cindy harus meminta izin lebih dulu.
Lampu kamar menyala temaram. Tirainya tertutup rapat. Dunia luar seperti benar-benar dihapus.
Edi berdiri di dekat meja kecil, ponsel di tangannya. Jari-jarinya bergerak cepat, rapi, tenang. Tidak ada getaran. Tidak ada ragu.
Cindy duduk terikat di kursi dekat ranjang. Tangannya gemetar, matanya basah. Ia ingin berbicara, ingin memohon, ingin menjelaskan lagi dan lagi bahwa semua ini adalah kesalahpahaman. Namun mulutnya terbungkam. Bukan hanya oleh kain lembap yang menutupnya, tetapi oleh rasa takut yang menekan dadanya.
Edi menunduk sedikit, membaca ulang pesan yang ia ketik.
“Aku pulang dulu ke kampung. Urgent. Ada urusan keluarga. Kalau kalian ngabari dan dariku slow respon, harap dimaklum ya, di rumahku susah sinyal.”
Pesan itu dikirim ke beberapa kontak, teman-teman Cindy di kampus. Orang-orang yang selama ini hanya tahu Cindy sebagai mahasiswi pendiam, rajin, dan mandiri. Mereka tidak tahu alamat rumah Cindy. Tidak tahu bagaimana jalannya. Tidak tahu apakah kampung itu bisa diakses dengan mudah atau tidak.
Dan justru karena itu, kebohongan itu terdengar masuk akal.
Ponsel kembali bergetar. Balasan masuk.
“Oh ya sudah. Terus gimana tugas kita?”
"Untuk saat ini aku bebanin dulu ke kalian, ya," balas Edi seolah-olah itu Cindy. Karena Edi bukan hanya berpura-pura menjadi Cindy. Ia juga mencontoh gaya typing yang selalu dilakukan Cindy.
“Titip salam ya.”
“Hati-hati di jalan, Ndy!”
Edi menghela napas pelan. Bukan lega, melainkan puas. Ia meletakkan ponsel di atas meja, lalu menatap Cindy. Tatapan itu lama. Datar. Seperti seseorang yang sedang memastikan barang miliknya tetap berada di tempatnya.
Cindy menangis tanpa suara. Air matanya jatuh satu per satu, membasahi pipinya, meresap ke kain penutup mulut. Bahunya naik turun menahan isak.
Edi tidak mendekat. Ia justru berbalik, ia keluar, dan menuju sebuah dapur. Di sana ia melakukan sesuatu dengan sangat santai, seolah ini hanyalah rutinitas biasa. Gerakannya terukur. Tidak terburu-buru. Edi membuat ramuan aneh. Ia mengambil sebuah susu sachet dan menuangkannya ke dalam gelas. Ia berhenti sejenak. Kemudian ia mengambil sisa gula merah di sebuah toples yang biasa dipakai masak oleh ibu kost, kemudian mencampurkannya ke dalam gelas tadi. Tak sampai situ, menambahkan satu sendok garam. Masih kurang lengkap, ia pun menumbuk 2 cabai merah, yang setelah setengah halus, ia pun mencampurkannya lagi. Edi pun kembali masuk. Dengan sangat penuh ketenangan.
Bagi Cindy, ketenangan itu justru jauh lebih menakutkan. Kenapa dia setenang ini? Karena ternyata di situlah letak bahayanya. Pelaku seperti Edi tidak meledak-ledak. Ia mengatur secara detail.
Edi meletakan ramuan yang dibuatnya tadi sambil tersenyum manis. Hasilnya menjadi cairan berwarna pucat kecokelatan, campuran yang tidak lazim. Ia meletakkannya di meja kecil dekat Cindy, tanpa berkata apa pun.