Edi menutup pintu belakang showroom. Satu per satu karyawan sudah pulang lebih dulu. Suara mesin kendaraan menjauh, menyisakan gema kosong di lorong-lorong yang telah ia kenal bertahun-tahun. Seperti biasa, ia tidak tergesa. Ia memang selalu menjadi yang terakhir, bukan karena diperintah, melainkan karena ia merasa perlu memastikan segalanya berada pada tempatnya. Itu kelebihannya di tempat ia kerja. Ia menyusuri ruangan, merapikan hal-hal kecil yang sering luput dari perhatian orang lain. Kursi yang sedikit bergeser. Meja yang belum lurus. Jejak kaki samar di lantai yang nyaris tak terlihat. Kerapian baginya bukan sekadar kebiasaan. Itu adalah cara mengendalikan dunia.
Ketika langkahnya berhenti di toilet paling belakang, Edi menoleh sebentar ke kanan-kiri. Sepi. Sunyi. Lampu menyala temaram, memantul di dinding keramik pucat. Ia membuka lemari kecil di sudut, lalu mengeluarkan sebuah kantong plastik hitam besar. Gerakannya cepat, efisien, seperti seseorang yang sudah memikirkan ini jauh sebelumnya. Ia tidak berpikir panjang. Tidak menimbang. Ia hanya melakukan apa yang telah ia putuskan.
Kantong itu diikat, dibawa keluar dengan langkah tenang, lalu diselipkan ke tasnya. Tidak ada rasa bersalah. Tidak ada ragu. Dalam pikirannya, semua ini hanyalah bagian dari proses yang harus dilalui.
Sore merambat menjadi malam ketika Edi tiba di kost. Jalan sempit di kawasan terminal lama tampak lengang. Lampu-lampu kecil di teras kamar menyala satu per satu. Dari luar, tidak ada yang tampak ganjil. Tidak ada suara mencurigakan. Tidak ada gerak yang mengundang perhatian.
Bu Narti, ibu kost, sedang duduk di ruang depan, menonton sinetron dengan volume sedang. Edi menyapa singkat, senyum kecil terukir di wajahnya, senyum yang sama seperti hari-hari sebelumnya.
"Karak balik, Ed?" - “Baru Pulang, Ed?”
"Muhun, Bu." - “Iya, Bu.”
Tidak lebih. Tidak kurang.
Di kamar, dunia lain menunggu. Edi menutup pintu perlahan, menguncinya seperti biasa. Ia selalu memastikan jika keluar masuk pintu harus ia kunci. Ia menaikan volume musik, pelan di awal, lalu sedikit dinaikkan. Bukan untuk dinikmati. Hanya untuk menciptakan lapisan suara, agar percakapan apa pun di dalam tidak menembus dinding tipis kost.
Cindy masih duduk di tempat yang sama. Tubuhnya tampak lebih lemas dari sebelumnya. Matanya bengkak. Wajahnya pucat. Tangis yang sejak siang tadi tak benar-benar berhenti telah menguras sisa-sisa tenaganya. Edi meletakkan tasnya, lalu menatap Cindy sejenak. Tatapan itu bukan tatapan marah. Lebih seperti seseorang yang sedang menilai keadaan barang miliknya, apakah masih utuh, apakah masih bisa digunakan.
"Saya mawa makanan jeung maneh," - “Aku bawain kamu makan,” katanya pelan.
Ia membuka bungkusan nasi. Aroma hangat memenuhi kamar kecil itu. Cindy menoleh perlahan. Ia tidak bertanya. Ia tidak protes. Ia hanya menatap, ragu dan lelah.
"Eumam heula," - “Makan dulu,” lanjut Edi.
"Maneh kudu kuat." - “Kamu harus kuat.”
Kalimat itu terdengar seperti perhatian. Tapi di baliknya, ada kepentingan. Cindy menggeleng lemah. Bibirnya bergetar. Ia tidak tahu harus percaya atau tidak. Setiap kata baik yang keluar dari mulut Edi kini terasa ambigu, tidak pernah jelas apakah itu perlindungan atau jebakan.
"Ieu ti warung Ega," - “Ini dari warung Ega,” kata Edi lagi, seolah ingin menenangkan.
"Haneut keneh." - “Masih hangat.”