Terminal Lama

Topan We
Chapter #30

Cindy Ayu Utami - Berhasil

Malam sudah melewati batas sunyi ketika Edi berdiri di tengah kamarnya. Musik telah ia matikan. Tidak karena takut terdengar, tapi karena pekerjaannya membutuhkan konsentrasi penuh. Ia menatap lantai teras kecil yang berada tepat di sudut kamar. Area itu selama ini tertutup karpet tipis dan lemari rendah. Tak ada yang pernah memperhatikan lebih dari sekadar pijakan kaki. Bahkan Bu Narti, ibu kos yang sesekali masuk hanya untuk menagih uang atau memastikan tidak ada lagi air mengucur karena bocor. Edi memindahkan karpet dengan perlahan. Gerakannya terukur. Tidak tergesa dan tidak ragu. Di balik lemari kecil, ubin teras tampak sama seperti yang lain. Namun Edi tahu persis bagian mana yang akan ia mulai. Ia berjongkok, membuka penutup plastik panjang yang selama ini tersimpan di kolong ranjang, berisi alat-alat yang tidak pernah ia gunakan untuk hal lain selain malam ini. Bukan alat aneh. Bukan perlengkapan yang mencurigakan. Hanya peralatan yang, jika dilihat sepintas, bisa ditemukan di rumah siapa pun. Ia mulai bekerja. Awalnya sulit. Lapisan pertama terasa keras, padat, seolah tanah itu enggan dilewati. Setiap dorongan membutuhkan tenaga lebih. Keringat mulai mengalir di pelipisnya, tapi Edi tidak mengeluh. Ia justru terlihat tenang, seperti seseorang yang sudah memperkirakan perlawanan awal. Ia berhenti sebentar. Menarik napas dan mengatur ritme. Kemudian ia melanjutkan.

Semakin dalam, tekstur tanah berubah. Tidak lagi sekeras permukaan. Gerakannya menjadi lebih lancar. Setiap ayunan alatnya terlihat semakin rapi. Tidak asal. Tidak sembarangan. Lubang itu perlahan membentuk kotak yang presisi, sudut-sudutnya hampir tegak lurus. Di titik ini, Edi tampak seperti pekerja bangunan berpengalaman. Tangannya tahu kapan harus menekan, kapan harus menahan. Ia tidak bekerja dengan emosi, melainkan dengan teknik. Bahkan sesekali ia merapikan sisi lubang dengan telapak tangan, memastikan tidak ada bagian yang runtuh ke dalam. Lubang itu semakin dalam. Sekitar satu meter lebih, menurut perhitungannya. Cukup.

Edi berdiri, mengusap keringat dengan punggung tangan, lalu beralih ke sudut kamar. Di sana sudah tersusun beberapa lapis plastik hitam. Ia mulai membungkus dengan hati-hati, lapis demi lapis, memastikan semuanya tertutup rapat. Tidak ada celah. Tidak ada ruang bagi apa pun untuk keluar. Setiap lapisan direkatkan dengan solatip. Setiap ikatan ditarik kencang. Tidak berlebihan, tapi tidak longgar. Ia bekerja seperti seseorang yang sedang mengemas barang berharga, bukan karena nilai sentimental, melainkan karena pentingnya menyembunyikan kecurigaan.

Setelah semuanya selesai, Edi mengangkatnya dengan dua tangan. Ia tidak terlihat berat atau ringan, hanya satu beban yang harus ditempatkan di lokasi yang telah ia siapkan. Ia menurunkannya perlahan ke dalam lubang. Kini jasad Cindy yang sudah menjadi potongan itu masuk ke lubang. Tidak ada kata apalagi doa.Hanya keheningan.

Edi kembali mengambil tanah yang tadi ia sisihkan. Ia menutup lubang itu dengan sabar, lapis demi lapis. Setiap genggaman ditekan, dipadatkan, diratakan. Ia tidak ingin permukaannya berbeda dari sebelumnya. Tidak boleh ada tanda. Tidak boleh ada jejak. Setelah tanah kembali penuh, Edi mengatur ulang ubin. Ia menekannya kuat-kuat, memastikan posisinya sama seperti semula. Lalu lemari kecil ia geser kembali ke tempatnya. Karpet digelar lagi. Selesai.

Jika seseorang masuk ke kamar itu besok pagi, tidak akan ada yang mencurigakan. Tidak ada bau aneh. Tidak ada noda. Tidak ada perubahan. Namun Edi belum selesai.

Ia mengambil ember, menuangkan air, lalu menuangkan deterjen lantai, banyak. Lebih banyak dari biasanya. Aroma menyengat segera memenuhi ruangan. Ia mengepel dengan teliti, menyusuri setiap sudut. Berkali-kali. Ia bahkan mengganti airnya beberapa kali, memastikan tidak ada sisa apa pun. Gerakannya mekanis. Seperti rutinitas hariannya di tempat ia kerja.

Setelah selesai, lantai terlihat bersih. Mengilap. Harum berlebihan. Terlalu bersih untuk ukuran kamar kos sederhana. Edi duduk di ranjang. Ia menatap sekeliling kamar. Tidak ada yang berubah.

Rak buku masih rapi. Sepatu tersusun lurus. Alat-alat kerja berada di tempatnya. Bahkan jam dinding masih berdetak seperti biasa. Yang berubah hanyalah sesuatu di dalam dirinya. Ia tidak merasa lega. Tidak pula merasa bersalah.

Yang ia rasakan justru semacam kehampaan datar, seperti seseorang yang baru saja menyelesaikan tugas besar dan tidak tahu harus melakukan apa setelahnya. Edi berbaring. Menatap langit-langit. Bayangan Cindy sempat melintas, tapi cepat ia singkirkan. Bukan dengan amarah. Bukan dengan rasa takut. Hanya dengan keputusan sederhana bahwa bayangan itu tidak lagi diperlukan. Ia memejamkan mata.

Di luar, motor dan mobil terus melintas. Anjing menggonggong. Terminal lama tetap hidup. Tidak ada yang tahu bahwa di sebuah kamar kos sederhana itu, tanah telah menyimpan rahasia yang tidak akan pernah diminta untuk bicara. Dan Edi tertidur malam itu, bukan sebagai orang yang dikejar rasa bersalah, melainkan sebagai seseorang yang merasa telah menata hidupnya kembali. Rapi, teratur dan sunyi.

Lihat selengkapnya