Deni dan teman-temannya sedang berkemas, karena rencananya selama 3 hari ke depan Deni dan keempat temannya akan berekreasi ke daerah puncak, Jawa Barat. Rencananya mereka akan menginap di vila milik teman Deni. Setelah sekitar dua jam perjalanan dari Jakarta, Deni dan teman-temannya sampai di vila yang akan mereka tinggali. Ternyata itu sebuah vila yang besar, dengan kolam renang yang berada di bagian belakang vila. Vila itu pun dikelilingi pohon-pohon besar, yang seakan-akan menutupi keberadaan vila itu. Bagian belakang vila juga berhadapan dengan hutan yang cukup lebat.
Begitu menginjakkan kaki di vila itu, Deni merasa sesuatu yang tidak enak. Kebetulan cuaca sedikit mendung. Udara yang sangat dingin bertiup di antara lebat pohon-pohon besar, ditambah suasana vila yang sepi. Sehingga suara angin terasa berbisik satir.
Deni dan teman-temannya pun segera memasuki vila untuk meletakkan barang-barang mereka. Mereka memutuskan bahwa setiap kamar diisi oleh dua orang. Setelah selesai membereskan kamar, Deni dan teman sekamarnya memutuskan untuk beristirahat sore itu. Mereka pun tertidur.
Azan Maghrib berkumandang, Deni pun terbangun. Ia beranjak mandi dan bersiap-siap untuk makan malam. Di vila itu mereka tinggal bersama Ujang dan Bi Imah. Ujang adalah penjaga vila itu, sedangkan Bi Imah adalah juru masak dan yang merawat vila. Setelah makan malam, tiga teman Deni memutuskan bermain biliar. Sebaliknya, Deni malah menghampiri Ujang yang kebetulan sedang duduk di tepi kolam renang. Mereka pun berbincang.
"Udah lama jang, jaga vila ini?" Tanya Deni membuka percakapan.
"Lumayan kang, sekitar sepuluh tahun mah ada," jawab Ujang santai.
"Di daerah sini emang sepi gini ya?" Sambung Deni.
"Dulu di sini rame kang, soalnya saat itu di sebelah vila ini adalah tempat kumpul wanita-wanita malam. Tapi semenjak kejadian itu jadi sepi kang," jawab Ujang.
"Kejadian apa jang?" Tanya Deni penasaran.