"Gimana keadaan kosan lo Gis, nyaman?" Telepon genggam Giska berbunyi ketika pesan singkat dari Aisyah masuk, Aisyah adalah teman Giska yang tinggal di Jakarta. Giska tersenyum sementara jarinya bergerak membalas pesan singkat temannya.
"Baik, di sini asik-asik aja. Gak terlalu mahal, dan juga gak rame. Pemilik kosan juga perhatian sih, walaupun agak nyebelin." Giska meletakkan kembali telepon genggamnya di atas tempat tidur. Beberapa saat kemudian, telepon genggamnya kembali berbunyi, tanda sebuah pesan masuk.
"Pas banget sama lo, lo kan gak suka yang berisik-berisik. Nyebelin kenapa tuh yang punya kosan?" Balas temannya. Giska mulai mengetik kembali di telepon genggamnya.
"Iya, tiap malem pasti keliling kosan ini, takut banget ada yang bawa pacar masuk kedalam kosan. Hampir tiap menjelang tengah malem dia pasti lewat di depan pintu kosan sambil ngeliatin gue. Ya gue senyumin aja kalo dia ngeliat gue." Giska menekan tombol kirim. Kemudian temannya kembali membalasnya.
"Hati-hati, ntar tuh bapak-bapak suka sama lo lagi hahaha..." Sambil tertawa Giska membalas lagi pesan singkat temannya.
"Sialan, mana doyan gue sama yang bapak-bapak gitu." Giska menggeleng-gelengkan kepalanya.
Giska seorang mahasiswi, kuliah di sebuah universitas swasta di salah satu kota besar Jawa Barat. Sebenarnya dia tinggal di Jakarta, hingga akhirnya dia pun tinggal di kos. Sebenarnya bibi Giska tinggal di kota yang sama dengan kampusnya, namun letaknya memang cukup jauh. Lagipula ibunda Giska takut Giska menyusahkan bibinya, oleh karena itu dia tetap diperintahkan untuk ngekos saja. Giska memang tidak pernah mempermasalahkannya, karena dia memang senang bisa tinggal sendiri tanpa ada orang yang lebih tua mengawasi. Dia bisa bebas mengatur hidupnya sendiri, melakukan apa yang dia inginkan tanpa harus dimarahi.
Sudah hampir tiga bulan dia tinggal di kamar kos itu. Tempatnya memang tidak terlalu bagus, tapi harganya cukup terjangkau dan tidak terlalu ramai. Ya, tidak terlalu ramai. Giska memang tidak suka tempat yang terlalu ramai. Dari beberapa puluh kamar kos disana, hanya sekitar enam sampai sembilan kamar yang terisi, termasuk kamar Giska. Ini adalah tempat yang sempurna, tapi memang tidak ada sesuatu yang sempurna. Bapak kosan memang sangat ketat. Dia selalu berkeliling tengah malam, mungkin takut ada anak kos yang membawa pacarnya di malam hari. Setidaknya itulah yang ada dipikiran Giska.
Bapak pemilik kosan berumur sekitar empat puluh lima tahunan, dengan rambut pendek tipis yang disisir ke samping dan badan yang cukup gempal. Dia selalu mengenakan kaus putih polos dan sebuah celana pendek hitam saat keliling tengah malam, dan selalu berhenti di depan kamar Giska. Giska memang suka membuka pintu kamarnya saat malam, itu karena udara kamarnya kadang terasa panas. Saat tidak tahan dengan panasnya udara di kamarnya, Giska membuka pintu kamarnya agar udara malam yang cukup segar masuk kedalam dan mengurangi udara panas. Ketika bapak pemilik kos berdiri tidak jauh dari pintu kamarnya seraya memperhatikannya, Giska hanya bisa tersenyum dan membiarkannya.
Nanti juga pergi sendiri, pikir Giska. Memang dia akan pergi dengan sendirinya, tanpa menyapa atau berbasa basi.
Giska hanya bertemu dengan bapak pemilik kosan saat berkeliling saja, karena biasanya yang menagih biaya sewa kos adalah anak perempuannya. Setiap tanggal tertentu di setiap bulannya, anak perempuannya akan datang dan menagih uang sewa. Mungkin mereka sudah membagi tugas untuk itu, si anak bertugas menagih uang sewa dan ayahnya bertugas mengawasi mahasiswi yang tinggal di sana. Mungkin karena itu juga kebanyakan mahasiswi yang tinggal di sini jarang sekali keluar malam, mereka malas bertemu bapak kos.
"Lagi ngapain lo? Kapan lo pulang ke Jakarta?" Pesan singkat dari Aisyah kembali masuk dan membuat telepon genggam Giska berbunyi. Giska mengambil telepon genggamnya dan membalas pesan itu.
"Nantilah kalo libur, gue lagi ngetik tugas aja. Gimana keadaan di sana, masih suka ngumpul-ngumpul sama temen-temen SMA?" Giska meletakkan kembali telepon genggamnya, dan kembali mengetik di laptopnya. Telepon genggam kembali berdering tanda sebuah pesan masuk. Dia kembali mengambilnya.
"Udah jarang ngumpul nih huhu... makanya gue kayak gak punya temen. Nanti kalo lo libur terus pulang hubungi gue ya. Jangan sampe gak hehe... eh gimana kabar bapak kosan lo yang tercinta itu?" Balas Aisyah. Saat membaca kata 'Bapak kosan' Giska langsung merinding. Sebenarnya bapak kosannya itu tidak seramah yang di bayangkan orang, dia sangat misterius. Ekspresi wajahnya selalu terlihat menyeramkan, dengan kedua bola mata yang memandang tajam. Dia tidak pernah menunjukan satu pun senyuman saat Giska tersenyum.
"Udah ah, lo jangan mainin bapak kosan gue. Dia orangnya serem tau, ntar kenapa-kenapa lo." Balas Giska. Saat di membalas pesan itu, tiba-tiba dia mencium wangi bunga melati yang menyengat di kamarnya. Dia segera melirik jam di dinding kamarnya, pukul sebelas malam. Seketika bulu kuduknya berdiri.
"Iya iya, gue gak ledekin bapak kos lo lagi deh. Gitu aja ngambek." Aisyah membalas.
"Eh lo tau gak, gara-gara ngomongin bapak kos gue. Sekarang kamar gue jadi kecium melati." Balas Giska.
"Hah, serius lo?! Buset serem banget ya kosan lo," balas Aisyah.
Ketika Giska hendak membalas kembali pesan singkat temannya, seketika ia kembali dikagetkan oleh kedatangan bapak kos. Dia berdiri beberapa meter dari pintu kamar Giska dengan tatapan cukup menyeramkan sampai tidak tahu harus berbuat apa, dia hanya tersenyum seraya menundukkan kepalanya tanda memberi salam. Tapi bapak kos tidak membalas pesanmu ia hanya diam dengan ekspresi penuh misteri. Giska sama sekali tidak dapat menangkap maksud dari wajah itu, namun yang pasti dia menangkap rasa tidak suka di wajah bapak kos.
"Udah ya, gue gak mau bahas lagi soal bapak kos gue," tutup Giska pada Aisyah. Dia kemudian bersiap untuk tidur karena memang keesokannya ada kelas jam sembilan pagi.
******