Teror Jam 12 Malam

Maghfira Izani
Chapter #9

Rumah kontrakan

Sudah satu bulan ini Bayu menempati rumah kontrakan yang cukup besar ini. Dia juga awalnya tidak menyangka bahwa rumah ini akan sebesar ini. Ketika melihat iklan sebuah rumah yang sedang dikontrakkan, sebuah rumah kecil petakkanlah yang ada di dalam pikirannya. Namun saat didatangi, ternyata apa yang dia lihat berbeda jauh dengan apa yang dia perkirakan. Setelah sedikit tawar menawar, akhirnya mereka sepakat untuk mengontrak rumah itu. Ada perasaan lega dalam diri Bayu, karena sudah beberapa minggu ini dia mencari rumah kontrakan yang cocok dengan uang yang dia punya. Untung saja seorang temannya menunjukkan sebuah iklan rumah yang dikontrakkan, dan ternyata cocok dengannya. Betapa beruntungnya Bayu.

Saat ini Bayu melanjutkan pendidikan di sebuah Universitas, namun di samping itu dia juga bekerja di sebuah perusahaan. Dia melakukan ini tidak lain untuk membiayai pendidikan sendiri, karena dia tidak ingin lagi menyusahkan kedua orang tuanya yang masih harus menyekolahkan kedua adiknya. Gajinya sebagai karyawan juga cukup lumayan. Bayu dapat mengontrak rumah sendiri, tanpa harus tinggal bersama orang tuannya. Dia ingin sekali belajar mandiri, karena baginya cepat atau lambat dia memang akan hidup sendiri dan mengurus dirinya sendiri.

Tidak ada yang salah dengan rumah yang Bayu kontrak. Rumahnya luas, mempunyai pekarangan yang ditumbuhi banyak tanaman yang membuat sangat asri. Kondisi bangunannya sendiri masih baru, tidak ada kesan kusam atau tidak terawat. Ini tidak seperti rumah-rumah yang terbengkalai, atau rumah yang membuat merinding siapa saja yang melihatnya. Rumah ini sangat bagus, jauh dari kesan angker atau apalah. Namun satu hal yang menyebalkan dari rumah ini kerap mengalami putus jaringan listriknya. Mengapa? Karena rumah ini kerap mengalami putus jaringan listriknya setiap tengah malam, dan hanya rumah itu yang mengalaminya. Deretan rumah di sisi kiri, kanan, atau bagian depan rumah itu seakan tidak berpengaruh apa-apa. Ketika pertama kali mengalami itu, Bayu sempat menelpon sang pemilik rumah. Ketika menanyakan tentang hal itu, sang pemilik rumah hanya mengatakan bahwa itu masalah intalasi listrik yang kurang baik. Mungkin saja petugas yang memasangnya melakukan kesalahan, sehingga Bayu harus memakluminya dan berusaha untuk terbiasa.

Awalnya ingin sekali Bayu terbiasa akan hal ini, namun ternyata sulit. Andai saja padamnya listrik terjadi saat dia sedang tidur, tentu tidak menjadi masalah baginya, toh padamnya listrik paling lama hanya sekitar tiga puluh menit, setelah itu listrik akan kembali menyala. Tapi sayangnya hal padamnya listrik terjadi saat dia sedang beraktivitas. Sebagai orang yang menjalani aktivitas kuliah dan bekerja dalam waktu bersamaan, tengah malam adalah saat ketika dia sedang makan malam, mengerjakan tugas, atau beraktivitas lain. Waktu yang dia punya dalam satu hari seakan kurang, sehingga saat tengah malam pun Bayu masih beraktivitas. Sehari-hari hanya tidur kurang lebih sekitar lima jam. Pagi hari dia harus bangun untuk bekerja, dan ketika pulang kerja, dia masih harus meneruskan kuliah malam. Sekitar pukul sebelas malam Bayu baru sampai di rumah, terkadang dengan keadaan belum makan malam. Rutinitas itu terus berjalan setiap hari. Oleh karena itu, padamnya listrik tengah malam kadang membuatnya terkejut.

*****

Malam itu cukup larut, sekitar pukul sebelas malam. Jalanan sudah sangat sepi, jarang sekali kendaraan yang lewat. Rumah-rumah sekitar pun sudah menutup semua pintu dan jendela mereka, siap untuk terlelap dalam mimpi mereka masing-masing. Saat itulah deru mesin motor Bayu memecah heningnya malam, lalu berhenti di depan sebuah pagar besi. Dia turun dari motornya untuk membuka pintu pagar. Saat pagar sudah terbuka dia kembali menaiki sepeda motornya lalu menarik gas motornya sehingga perlahan-lahan motornya berjalan masuk ke dalam pekarangan rumah dengan suara deru yang semakin meraung.

Sesampainya di pekarangan, Bayu mematikan mesin motornya. Dia turun dari motornya untuk menutup dan mengunci pagar rumahnya, setelah itu mendorong motornya kedalam rumah. Malam itu seperti biasa Bayu pulang malam. Dia masuk ke dalam rumahnya lalu mengunci pintu depan. Sempat duduk diam di kursi ruang tamu, matanya menerawang ke dinding rumah itu, sejenak melepaskan lelahnya. Beberapa menit kemudian Bayu beranjak ke dalam kamarnya, lalu masuk ke kamar mandi. Sesudah mandi, Bayu keluar kamar mandi dengan handuk melingkar di lehernya, mengambil tasnya yang ditinggalkan di ruang tamu lalu duduk di meja makan. Saat itu dia merasa sangat lapar, karena memang belum sempat makan malam tadi.

Bayu melemparkan handuknya ke kursi kosong di sebelahnya, membuka resleting tasnya, lalu mengeluarkan sebuah plastik hitam yang berisi makanan serta sebuah plastik hitam yang lebih besar berisi lampu darurat. Ya, lampu darurat. Bayu memang menyempatkan untuk membeli sebuah lampu darurat untuk dinyalakan saat lisrik padam. Padamnya listrik setiap tengah malam membuatnya jengkel, dan juga ketakutan...

Terutama beberapa hari belakangan, ada beberapa hal jangkal saat lampu rumah padam. Seperti yang terjadi sehari sebelumnya, ketika dia sedang makan sendirian di meja makannya. Jam dinding menunjukkan pukul dua belas malam, seketika itu juga listrik padam. Seluruh ruangan dirumah mendadak gelap, begitu juga ruang makan. Bayu tidak bisa melihat apa-apa, hanya bisa diam dan menghentikan makannya. Tapi beberapa menit kemudian dia mendengar suara deru napas yang berat, dan serak. Tidak hanya itu, selama gelap dia juga mendengar suara benda-benda di dapurnya seperti sengaja di jatuhkan satu per satu. Dan puncaknya adalah, dia mendengar suara cekikikan seorang wanita yang sangat pelan namun sangat dekat dengannya. Saat itu jantungnya berdetak sangat cepat, keringat juga bercucuran dari dahinya. Dia tidak tahu apa yang harus dia perbuat di tengah gelap gulita saat itu, hanya bisa diam dan menahan tubuhnya yang gemetaran hingga lampu menyala. Tiga puluh menit kemudian lampu kembali menyala. Dan ketika lampu menyala, dapur rumahnya kosong. Tidak ada siapa-siapa di sana, hanya ada dirinya sendiri, dan barang-barang pun masih ada di tempatnya, tidak ada yang jatuh ke lantai. Semenjak itu, Bayu menjadi agak ketakutan saat lampu padam. Dan akhirnya, hari ini dia memutuskan untuk membeli sebuah lampu darurat sebagai penerangan sementara lampu padam.

Bayu meletakkan lampu darurat itu di atas meja, tidak jauh dari tempatnya duduk. Dia lalu beranjak untuk mengambil peralatan makan. Bayu sempat melirik ke jam dinding di dapur, menunjukkan pukul sebelas empat puluh, yang berarti sedikit lagi lampu padam. Bayu meletakkan piringnya di atas meja makan dan mengisinya dengan makanan yang dia beli. Beberapa menit kemudian dia sudah asyik menikmati makan malamnya, hingga saat jam menunjukkan pukul dua belas tepat. Listrik di rumah itu pun mati.

Seketika itu juga, seluruh ruangan menjadi gelap gulita. Bayu sedikit merasa panik, dan meraba-raba meja makannya mencari lampu darurat miliknya. Tapi anehnya, dia tidak juga dapat meraih lampu darurat itu, padahal seingatnya dia meletakkannya sangat dekat. Bayu tidak menyerah, dia terus meraba-raba mencari lampu itu. Ketika tangannya sudah terbentang lurus ke depan, barulah dia dapat meraih lampu itu.

Aneh, mengapa lampu itu berada sangat jauh? Batin Bayu.

Dia langsung memegang erat lampu itu. Namun ketika ingin menyalakan lampu darurat, ada sebuah keraguan-keraguan di dalam hatinya untuk menyalakannya.

Lihat selengkapnya