Perkenalkan namaku Nanda. Aku hanya seorang gadis pada umunya, tapi tidak keseluruhannya normal. Semenjak kecil aku mempunyai kemampuan melihat bayangan-bayangan hitam yang berkeliaran di sekelilingku. Aku tidak yakin kapan kemampuan itu kudapatkan. Seingatku, aku mulai merasakan kemampuan itu ketika umur ku menginjak 5 tahun. Awalnya aku hanya melihat banyak sekali bayangan hitam yang lalu lalang di depan rumah atau ketika aku dan keluargaku sedang bepergian ke tempat baru. Namun semakin umurku bertambah, aku semakin bisa melihat mereka dengan jelas. Ketika aku masih berumur 5 tahun, aku menganggap mereka adalah manusia juga. Tapi semakin dewasa, aku mulai mengenali beberapa kejanggalan mereka, tapi mereka sama sekali tidak melangkah. Mereka hanya diam, dan tubuh mereka bergerak pelahan-lahan seperti mengambang ke udara.
Pada umur 7 samapi 10 tahun, aku sering sekali sakit-sakitan. Alasan utama aku sakit-sakitan adalah karena aku menjadi bulan-bulanan mereka. Saat mereka mengetahui bahwa aku dapat melihat mereka, mereka tidak henti-hentinya mempermainkanku. Membuataku tidak bisa tidur, akhirnya jatuh sakit. Satu hal yang membuatku tidak tahan adalah wujud mereka. Mereka seperti punya cara untuk membuatku tidak bisa tidur.
Bagaimana mungkin seorang yang normal bisa tidur ketika ada sosok wanita dengan lingkaran mata yang menghitam dan wajah pucat penuh luka lebam, berdiri di sisi tempat tidur? Memperhatikanku dengan tatapan tajam seraya tersenyum, dan itu teradi tepat pada tengah malam!
Sosok wanita itu memang penghuni kamarku, dan dia gemar sekali memerhatikanku ketika aku tidur. Awalnya aku sering mengira kalau sosok itu adalah ibu, terutama saat dia mengelilingi rumahku pada tengah malam. Pernah suatu malam aku sedang ingin ke kamar mandi, aku pelan-pelan turun ke lantai bawah. Saat melewati ruang makan yang saat itu dalam keadaan gelap, aku melihat seorang wanita tengah berada di sana. Dia seperti sedang membereskan piring-piring. Aku tanpa ragu aku menyapanya, "Mama belum tidur."
Dan ketika wanita itu menoleh, aku mengenali lingkaran mata hitam dan senyumannya yang menyeramkan. Ternyata dia bukan ibuku, melainkan makhluk yang ada di kamarku. Dia tersenyum menyeringai saat kupanggil 'mama', dan beberapa detik kemudian dia menghilang. Aku langsung lari terbirit-birit menuju kamar mandi. Namun saat selesai buang air kecil dan kembali ke kamar, dia sudah ada di kamarku, berdiri kaku di sudut kamar. Terus saja memerhatikanku.
Lama kelamaan aku mulai terbiasa dengan kemampuanku ini. Aku tidak lagi terlalu takut dengan penghuni kamarku. Aku bahkan menamainya "nyonya". Saat akan tidur, aku kadang suka berbicara sendiri.
"Nyonya, jangan ganggu gue. Gue mau tidur, agak kesanaan sedikit berdirinya."
Orangtuaku awalnya heran, tapi ya mereka akhirnya menerima kemampuanku. Mau diapakan lagi, toh aku sudah dianugerahi kemampuan ini, jadi terima sajalah. Oh iya, penghuni rumahku bukan hanya si "nyonya" loh. Di kamar mandi rumah ada sosok pria yang wujudnya hanya berupa setengah tubuh manusia, dari kepala hingga pinggang. Aku tidak tahu apa yang terjadi dengannya, tapi dia sudah menghuni kamar mandi rumahku sudah lama.
Seperti dia mati kecelakaan atau bagaimana, entahlah. Tapi laki-laki inilah yang paling aku takuti. Selain memang wujudnya yang hanya setengah badan, wajah pria ini juga sangat menyeramkan. Wajahnya agak hancur dengan sebuah luka robek memanjang dari alis hingga pipi. Separuh wajahnya juga gosong, dia benar-benar wujud yang sangat menyeramkan.
Untungnya sosok pria itu takut dengan garam. Jadi untuk mencegah dia muncul saat aku sedang dikamar mandi, aku menyuruh orangtuaku untuk menaruh garam dapur di sisi kamar mandi, sehingga siapa pun menggunakan kamar mandi akan aman dari gangguannya. Maklum, sosok pria ini sepertinya sangat jahil, suka mengganggu orang-orang di rumah. Dulu sering sekali pembantu pingsan di dalam kamar mandi akibat diganggu sosok itu.
*****
Tahun 2008 aku lulus SMA, dan seperti kebanyakan anak SMA lainnya, tentunya aku juga ingin meneruskan keperguruan tinggi. Saat aku menerima surat pemberitahuan bahwa aku lulus SMA, orangtuaku memutuskan untuk mendaftarkan aku pada sebuah universitas swasta salah satu kota besar di Jawa Barat. Orangtua memang berasal dari kota tersebut, jadi tidak heran jika mereka menginginkan aku untuk kuliah di sana.
Setelah aku mendaftar dan mengikuti prosedur penerimaan mahasiswa baru, akhirnya aku resmi menjadi mahasiswi di sana. Aku mengambil sastra inggris. Sebenarnya aku ingin sekali tinggal di rumah nenek selama masa kuliah, tapi orangtuaku tidak mengizinkan. Mungkin karena rumah nenek jauh dari kampus, jadi mereka khawair jika aku harus pulang pergi dari rumah nenek ke kampus, aku bakal gampang kecapekan. Akhirnya aku menyewa sebuah kamar kos yang berada tidak jauh dari kampus.
Oh iya, seminggu sebelum aku berangkat kesana "nyonya" seperti tidak setuju aku pergi. Dia selalu berbuat ulah, mulai dari menyembunyikan barang-barangku, sampai mengobrak abrik isi koperku. Sering sekali aku menemukan pakaianku acak-acakan di pagi hari, dan aku hanya bisa tersenyum melihat ulah "nyonya". Tapi yang paling parah adalah tiga hari sebelum keberangkatanku. Selama tiga hari itu, setiap aku bangun pagi hari, aku selalu menemukan tanda seperti ada seseorang yang tidur di sebelahku semalam. Ternyata selama tiga hari itu, "nyonya" tidur di sampingku, tidur di sebelahku semalaman...
Setelah beberapa hari menempati kamar kos baru, aku belum menemukan sosok yang aneh di sana. Aku merasa sangat bersyukur, akhirnya aku bisa tidur dengan tenang. Selama menjalani perkuliahan juga aku mendapat banyak teman, begitu juga di tempat kos. Aku mulai mengenal penghuni di sana, dan tidak lagi merasa kesepian. Aku sering sekali singgah ke kamar temanku, tapi sayangnya kamar beberapa temanku ada yang "penghuninya".
Kamar teman yang berada tepat di sebelah kamarku misalnya, ada sosok anak perempuan di sana. Wajahnya sangat pucat dan tatapannya kosong. Setiap kali aku melihat ke arahnya dia hanya diam, membalas tatapanku dengan tatapan kosong tanpa ekspresi, dan mulut yang mengeluarkan darah. Lalu seketika dia menghilang.
Tapi itu tidak seberapa, di kamar teman yang lainnya di ujung lebih seram lagi. Di sana ada sosok wanita seperti "nyonya" tapi jauh lebih menyeramkan. Rambutnya panjang menutupi wajahnya, namun samar-samar aku melihat wajahnya di balik rambutnya yang lebat dan kusut. Astaga, wajahnya hancur, dan lidahnya menjulur dari mulutnya! Bola matanya berwarna merah seperti terjadi pendarahan di dalam bola matanya. Aku yang baru melihat seketika merinding, dan detak jantungku berpacu cepat. Aku tidak mau melihatnya lagi. Sosok wanita itu senang sekali menempel diatas kamar!
Hari berganti hari, bulan berganti bulan. Tidak terasa sudah sekitar satu setengah tahun aku menjalani perkuliahan, dan saat itu aku sedang libur setelah UAS. Karena sebuah urusan kemahasiswaan, aku belum pulang ke Jakarta. Beberapa temanku juga demikian. Kami benar-benar merasa bosan, karena hampir seluruh teman-teman sudah pulang ke rumah masing-masing. Hanya kami berempatlah yang masih berada di kosan.
Pada suatu malam, temanku yang bernama Ami mendatangi kamarku. Dia mengajak aku untuk jalan-jalan malam.
"Dari pada bete di kamar, yuk jalan-jalan," ajaknya.
Karena memang aku sedang bosan, akhirnya aku menurut. Ternyata kedua teman aku yang lainnya sudah menunggu di beranda tempat kos. Mereka adalah Rina dan Yanti.