Teror Jam 12 Malam

Maghfira Izani
Chapter #12

Teror di kamar kos

Didi rindu sekali dengan kampung halamannya. Di saat teman-teman di kelasnya lalu-lalang, dan saling berbincang dengan suara yang cukup keras, suara mereka seperti sebuah bising kepakan lebah-lebah, di telinga Didi. Matanya sibuk menangkap birunya langit di luar sana, beberapa burung walet hitam melayang-layang ke sana kemari. Saat mencoba melihat lebih jauh lagi, dia hanya menangkap kabut tipis yang menghalangi pandangannya. Beberapa atap rumah dan gedung-gedung menjulang terlihat di antara kabut abu-abu. Didi beberapa kali mengusap keringat di dahinya. Hari itu matahari memang bersinar terang benderang di balik barisan awan putih. Hari yang cerah.

Jika saja dia tidak harus masuk ke salah satu universitas di Jakarta, mungkin sekarang dia sedang bersenang-senang bersama teman-temannya di kampung halamannya. Tapi apalagi yang dapat dia katakan, terutama saat orangtuanya mengharuskannya untuk meneruskan pendidikan di kota yang penuh sesak ini. “Ini demi masa depan kamu nak,” kata ayahnya saat itu.

Banyak hal yang berkecamuk di dalam kepala Didi. Apa sih bagusnya kota padat ini? Udaranya saja bisa membuat sakit kepala. Belum lagi biaya kos yang cukup mahal. Di kampung halamnnya, Didi dapat menyewa sebuah rumah besar selama setahun dengan biaya satu bulan kosnya. Tapi ketika ia memikirkannya lagi, mungkin ada benarnya nasihat orangtuanya. Mungkin ketika dia lulus dari sini, dia akan mendapatkan kesempatan bekerja yang baik.

“Dan itu harus, awas saja jika tidak,” gerutu Didi.

**********

Siang ini benar-benar panas. Didi kembali mengusap keringat yang menetes pelan-pelan di lehernya. Ketika itu Eza temannya datang menghampirinya.

“Lo diem aja Di, kenapa?” Eza meninju lengannya.

“Gak apa-apa kok, lagi males aja.” Didi menjawab dengan setengah hati, semua tergambar dari wajahnya yang kecut.

“Lo kangen sama kampung lo ya? Ngaku aja deh,” Eza berusaha menebak. Didi hanya diam, tidak berselera untuk menjawab.

“Santai aja Di, nanti juga lo di sini banyak temen. Nanti gue kenalin sama temen-temen gue, biar lo ga kesepian,” tawar Eza tulus. Selama Didi memulai kuliahnya beberapa bulan yang lalu, Eza-lah teman pertamanya. Mereka cepat sekali akrab.

“Terus gimana kosan lo, enak?” Eza menarik kursi dengan busa yang ditutupi kulit hitam di bagian alasanya, kulit yang terlihat murahan.

“Enak sih, Cuma ya gitu. Kalo malem panas, hawanya gak enak,” jawab Didi. Eza melihat wajah Didi untuk beberapa saat.

“Emangnya gak enak gimana?”

“Iya, banyak banget cerita-cerita seremnya.” Didi memasukkan bukunya ke dalam tas, hari itu sepertinya dosen yang mereka tunggu tidak datang.

“Serius lo, tau dari mana?” mata Eza terlihat berapi-api, dia sangat tertarik dengan percakapan tentang cerita seram.

“Iya, katanya ada penghuninya, dan penghuninya itu suka muncul ke satu per satu kamar.” Didi menaruh tangannya di atas tas.

“Serem banget, lo kok mau nempatin tuh kosan?”

“Ya mau gimana lagi, Cuma itu yang ada. Daripada gue tidur di kolong jembatan hahaha…” Didi tertawa, entah karena dia ingin melucu atau mengasihani dirinya.

“Terus lo pernah ketemu sama penghuninya?” Eza semakin gencar melayangkan pertanyaannya.

“Belum sih, tapi beberapa kali gue denger suara cewe nangis.” Didi menelan ludahnya.

Lihat selengkapnya