Baru beberapa bulan ini Deni menikah dengan Tanti, seorang gadis di desanya yang sudah lama dia sukai. Mereka memang sudah lama saling mengenal, karena Tanti sendiri tinggal di sebuah desa yang bertetanggaan dengan desa Deni. Ketika Deni ingin berangkat kerja di kota, dia selalu melewati desa tempat Tanti tinggal. Saat itulah perasaan suka di antara mereka timbul, dan hanya dengan hitungan bulan, Deni memberanikan diri untuk melamar Tanti. niat baik itu pun disambut baik oleh keluarga Tanti. Mereka menikah di desa tempat Tanti berasal, dan mereka merencanakan untuk tinggal di sana.
Sebagai seorang pemuda yang bekerja sebagai buruh di kota, Deni memang belum mempunyai tempat tinggal. Selama ini dia tinggal bersama orangtuanya, namun ketika menikah dengan Tanti, orangtua Tanti menawari Deni sebuah rumah yang merupakan milik kakek dan nenek Tanti yang sudah lama tidak ditinggali. Mereka menyuruh Deni dan Tanti meninggali rumah itu. Akhirnya mereka berdua menuruti permintaan keluarga Tanti, dan pindah ke rumah itu, sebuah rumah bilik bambu dengan atap jerami kering yang terletak diantara sawah warga dan sebuah kebun kosong. Rumah itu memang agak terpencil dari rumah yang lainnya, tapi itu tidak menjadi masalah bagi mereka, toh diberikan tempat tinggal saja mereka sudah sangat senang. Di sanalah mereka akan memulai hidup baru mereka, jadi mereka sangat bersyukur.
**************
Beberapa hari setelah pernikahan, mereka menempati rumah itu. Rumah itu sama seperti rumah pada umumnya, tidak ada yang spesial. Di ruang tamu itu terdapat sebuah lukisan yang cukup besar, lukisan seorang wanita muda. Mungkin lukisan itu milik mendiang kakek Tanti jadi tidak ada yang berani memindahkan lukisan itu. Itu tidak menjadi masalah buat mereka. Hanya saja ketika melihat lukisan itu, Tanti merasa bulu kudunya berdiri. Entah mengapa, perasaan takut tiba-tiba menyergap. Meskipun begitu, Tanti tidak pernah menghiraukannya. Dia tetap menjalankan kegiatan sehari-harinya seperti biasa. Sampai suatu hari, Deni harus pergi ke kota.
Ada sebuah pekerjaan di kota, dan bayaran untuk pekerjaan itu pun lumayan. Dengan berat hati, Deni harus pergi meninggalkan istrinya. Setidaknya Deni tidak akan pulang dalam waktu tiga hari. Setelah lama berpikir, akhirnya Tanti mengizinkan Deni untuk pergi, lagipula mereka memang membutuhkan uang untuk menyambung hidup. Setelah berkemas, sore itu juga Deni berangkat ke kota. Dia berpamitan kepada istrinya sebelum berangkat.
“Doakan aku ya, mudah-mudahan pulang bawa rezeki yang banyak,” ujar Deni sebelum berangkat.
“Aku selalu mendoakanmu, hati-hati di jalan ya,” jawab Tanti.
“Kamu juga hati-hati di rumah, jika ada apa-apa pergi saja ke rumah orangtuamu,” setelah itu Deni pun berangkat ke kota.
Selepas kepergian suaminya, Tanti hanya menghabiskan waktu di dalam rumah. Desa mereka memang sangat sepi saat malam, apalagi rumah mereka yang memang sedikit terpencil. Tidak ada seorang pun yang lewat selepas magrib, suasananya pun lengang. Hanya ada suara hewan malam bersaut-sautan dari kejauhan.
Setelah melaksanakan salat Isya, Tanti mengambil beberapa potong pakaian suaminya untuk dia jahit. Baju-baju tua itu memang sudah semakin gampang rusak, dan karena tidak mampu membeli baju baru, akhirnya tangan Tanti harus lihai memperbaiki satu demi satu bagian yang rusak dengan modal jarum dan benang. Malam itu Tanti duduk di ruang tamu sambil menjahit, dan tidak terasa malam semakin larut, Tanti masih asik menjadi baju.
Semakin larut malam bergulir, udara di ruang tamu semakin dingin. Tiba-tiba tercium harum bunga melati semerbak di ruang tamu. Tanti yang sedang menjahit pun berhenti dan mendengus-dengus di udara. Ternyata benar, harus bunga melati terasa sangat menusuk hidungnya. Tanti menyebarkan pandangannya ke seluruh ruangan, mencari sumber wangi itu, tapi tidak ada apa-pa di ruang tamu. Aneh. Akhirnya dia melanjutkan kegiatan menjahitnya.
Namun beberapa menit kemudian Tanti mendengar suara wanita tertawa. Seketika itu juga dia terperanjat kaget. Kali ini baju yang dia pegang hingga terjatuh. Tanti memeriksa keadaan sekitar. Tapi nihil, tidak ada apa-apa di sana. Entah mengapa, kecurigaan Tanti mengarah ke lukisan itu, lukisan seorang wanita muda mengenakan gaun bermotif kembang-kembang dengan renda di lehernya, dan berambut keriting panjang sebahu. Wanita itu terlihat tersenyum. Namun saat diperhatikan secara seksama, wanita itu menyeringai.
Tanti memperhatikan lukisan itu, seperti ada sesuatu yang aneh dengan lukisan itu. Lama-kelamaan Tanti merasa lukisan itu sedang menatap tajam ke arahnya, namun dia terus saja memerhatikannya tanpa berkedip. Hingga tiba-tiba sorot mata lukisan itu bergerak ke arahnya, Tanti tersentak kaget. Dia benar-benar melihat bola mata wanita itu bergerak ke arahnya. Wanita itu seperti hidup. Tanti melepas pakaian yang dia pegang, lalu masuk ke dalam kamarnya. Dia duduk di atas ranjangnya, tubuhnya gemetaran. Lukisan itu hidup, lukisan itu benar-benar hidup!
Tanti melihat dengan mata kepalanya sendiri, tatapannya sangat menyeramkan. Ketika Tanti sedang memikirkan apa yang dia lihat tadi, sebuah suara tawa cekikikan terdengar dari ruang tamu tempat lukisan itu berada. Suara tawa itu terdengar sangat menyeramkan, seakan mengejeknya. Tanti langsung menutup wajahnya dengan selimut, dan membaca doa. Malam itu Tanti tidak bisa tidur dengan nyenyak, dia selalu saja terbangun tiba-tiba, seperti ada sesuatu yang memerhatikannya saat ia tertidur, hingga akhirnya matahari mulai meninggi menandakan pagi sudah tiba.
***********
Pagi itu Tanti terlihat sangat lemas, semalam dia kurang tidur. Beberapa kali melewati ruang tamu, dia merasa ketakutan. Hari itu Tanti hanya diam di teras rumahnya, hingga akhirnya adiknya datang untuk menengok keadaan di rumah itu.
“Eh kamu neng, ada apa ke sini?” sambut Tanti saat adiknya datang.
“Gak ada apa-apa teh, Cuma mau anter sayur-sayuran sama nengok teteh. Soalnya kang Dani berpesan untuk sering-sering menengok teteh saat dia gak di rumah,” jelas adik Tanti.