Rabu, 1 Agustus 2007
Aku harus pulang. Aku harus bolos kuliah dan meninggalkan Jakarta beberapa minggu ke depan. Oh ya, ngomong-ngomong, namaku Naomi, aku tinggal di Jakarta. Aku seorang mahasiswi di sebuah universitas swasta di Jakarta. Aku memang sudah lama tidak pulang kampung. Aku memang malas sekali pulang kampung. Aku lahir dan besar di Jakarta dan sudah terbiasa tinggal di Jakarta. Oleh karena itu setiap kali libur tiba, hanya orangtua dan kakakku yang pulang kampung, sedangkan aku memilih untuk tetap di rumah dan menghabiskan waktu bersama teman-temanku. Beberapa kali orangtua menyuruhku untuk ikut saat mereka mengatakan bahwa nenekku sangat ingin bertemu denganku, aku tidak bergeming. Aku selalu melewatkan saat-saat pulang kampung, dan ku akui mungkin bukan tindakan yang baik.
Nenekku sudah sangat tua, umurnya sekitar delapan puluh lima tahun, sedangkan kakekku sudah meninggal beberapa tahun yang lalu. Menurut orangtuaku, kakek meninggal pada tahun 1996. Saat itu aku masih kecil dan belum mengerti. Sebenarnya aku tidak sekecil itu, tapi hanya saja saat itu aku memang belum paham hal-hal seperti itu. Aku baru mengerti bahwa kakekku sudah meninggal beberapa tahun kemudian, dan setelah itu nenekku tinggal sendirian. Orangtuaku, dan saudara-saudaraku yang lain memang sering mengunjungi nenek. Waktu itu aku pun sering ikut. Nenekku orang yang baik. Beliau selalu menceritakan pengalaman-pengalaman hidupnya. Nenek dan kakek memang pernah hidup dijaman penjajahan Belanda, sehingga selalu punya cerita untuk diceritakan. Mulai dari sulitnya hidup kala itu, sehingga bagaimana nenekku bersekolah di sekolah yang di buat Belanda. Aku memang sayang nenek, tapi semakin dewasa, aku semakin malas pulang kampung dan mengunjunginya.
Tapi kali ini aku harus pulang, karena sudah beberapa minggu ini nenekku di rawat dirumah sakit karena tubuhnya yang semakin melemah, belum lagi serangan berbagai macam penyakit. Tidak heran mengingat umurnya yang sudah sangat tua. Beliau kadang tidak sadarkan diri lalu kemudian siuman kembali. Kadang nenek masih bisa diajak komunikasi, tapi kemudian mulai berbicara tidak karuan. Beberapa minggu ini orangtuaku dan beberapa adik ibukku bergantian menjaga nenek di rumah sakit. Namun karena desakan pekerjaan, mereka sudah tidak dapat menjaga nenekku lagi, hingga akhirnya mereka menyuruhku datang untuk menjaga nenekku selama satu minggu, setidaknya sampai ibuku kembali dari dinas luar kotanya. Tidak ada pilihan lain, karena saat itu hanya akulah yang tidak sibuk, sedangkan anggota keluarga yang lain sibuk mengurus pekerjaan mereka. Aku pun menyanggupi untuk menjaga nenek seminggu ini, dan akhirnya aku kembali menginjak kampung halaman orangtuaku.
*******
Aku sengaja berangkat pagi-pagi sekali dari Jakarta, karena sore hari ibuku harus segera berangkat. Siang harinya aku sampai di rumah sakit, dan ibu sudah menungguku di ruang tempat nenek dirawat. Ketika aku datang, dia sudah berpakaian rapi dan siap berangkat. Ibu menjelaskan apa saja yang harus aku perhatikan, dan di jam-jam berapa saja aku dapat pulang ke rumah nenekku untuk mengambil baju ganti. Seluruh penjelasan ibuku dapat kumengerti, setelah itu dia segera berkemas dan pergi. Setelah ibuku pergi, aku menggelar matras yang telah kusiapkan di atas lantai. Aku juga mengeluarkan semua buku-buku yang kubawa untuk mengusir rasa jenuh. Aku sudah siap melewatkan beberapa hari ini di rumah sakit.
Beberapa jam setelah kepergian ibuku, tepat pukul tujuh malam, suster mengantarkan makan malam untuk nenek, dan kebetulan sekali nenekku bangun saat itu. Beliau tersenyum saat melihatku.
“Kamu sudah besar ya Naomi, terakhir nenek ketemu kamu, kamu masih kecil,” ujar nenek tersenyum.
“Iya nek, Naomi sibuk sekolah jadi gak bisa ikut ibu kalo pulang kampung.” Aku tahu aku berbohong, karena sebenarnya aku tidak sesibuk itu. Lagipula mana mungkin aku sibuk di saat hari libur, sangat tidak masuk akal. Tapi nenekku seakan tidak peduli, beliau hanya tersenyum seakan memaklumi alasanku. Tangan nenekku yang hangat meremas tanganku, aku tersenyum.
“Nenek pasti laper kan? Ini makanannya udah dateng, yuk makan. Naomi suapin.” Nenekku memandangku dalam, dan menganggukkan kepalanya.
Aku segera menyiapkan makanan yang sudah tersedia, lalu menyuapinya satu per satu ke mulut nenek. Tapi baru beberapa suapan nenek sudah mengangkat tangannya memberi tanda cukup. Aku berhenti menyuapinya, dan meletakkan makanan itu ke meja. Aku mengerti kenapa nenekku hanya makan sedikit, pasti kondisi badannya tidak enak. Nenekku berbaring kembali, memandangku dan tidak berhenti tersenyum.
“Nenek gak usah banyak bicara dulu, mending nenek tidur lagi. Kalo perlu apa-apa bilang aja ke Naomi.” Aku membalas senyum nenekku.
“Nenek gak perlu apa-apa, tapi tolong kasih tau sama pemuda yang lagi berdiri di depan pintu. kalo dia mau masuk, ya masuk aja. Jangan berdiri di sana aja.”
Aku langsung kaget dan seketika menoleh ke arah pintu kamar. Tidak ada siapa-siapa di sana. Bulu kudukku mulai berdiri, tapi aku kemudian teringat dengan kata-kata ibuku yang mengatakan bahwa nenek kadang suka berbicara ngawur. Mungkin saat ini beliau sedang mengigau.
“Masuk aja, jangan berdiri terus di pintu.” Aku berkata ke arah pintu. Memang terlihat bodoh karena tidak ada siapa-siapa di depan pintu, tapi aku lakukan itu demi menyenangkan hati nenek.
“Udah nek, udah Naomi suruh masuk, sekarang nenek istirahat ya.” Nenek tersenyum, lalu matanya perlahan-lahan tertutp. Saat nenekku sudah tertidur, aku menaikkan selimutnya dan mulai membaca buku.
Baru saja mulai membaca, tiba-tiba sebuah tirai yang berada di dekat pintu masuk bergerak sendiri, seperti ada sesuatu yang memasuki kamar rawat nenekku. Tidak hanya itu. Ketika sedang membaca, aku merasakan sesuatu yang dingin menyentuh pundakku. Aku berbalik ke belakang dengan cepat, hingga buku yang kupegang jatuh ke lantai. Tidak ada siapa-siapa di belakangku, sedangkan tirai di dekat pintu masih bergoyang-goyang. Aku hanya bisa diam beberapa detik, lalu memutuskan untuk tidur.
Keesokan harinya aku masih memikirkan peristiwa semalam, apakah nenek memang sedang mengigau atau berbicara yang sebenarnya. Setelah makan siang nenek tidak bisa tidur, jadi aku pun mengajaknya berbincang-bincang sedikit lalu menanyakan kembali kejadian semalam.
“Nek, emang semalem nenek liat pemuda di depan pintu?” tanyaku.