Teror Jam 12 Malam

Maghfira Izani
Chapter #15

Kisah Rumah Kardus

“Udah, aku keluar aja dari rumah,” bentak Arya. Ia lalu pergi ke kamarnya, menarik tas ranselnya. Beberapa kali Arya mengelilingi kamarnya untuk mengambil barang-barannya yang akan di bawa, beberapa potong pakaian dan celana dia jejalkan ke dalam tas. Ibunya menyusul ke dalam kamar.

“Jangan nak, kamu jangan pergi. Kasihanilah ibu.” Ibunya menangis seraya berdiri di ambang pintu kamar Arya, tapi Arya tidak menggubrisnya sama sekali. Setelah merasa sudah memasukkan semua pakaian dan barang yang dia perlukan, Arya menerobos pintu kamarnya. Tubuh ibunya terhempas saat Arya menerobos pintu kamarnya, sebelum pergi dari rumahnya. Arya sempat berkat kepada ibunya, “Ibu tinggal saja dengan suami ibu yang baru.” Tanpa menoleh lagi Arya pergi meninggalkan ibunya yang hanya bisa menangisi kepergian anaknya.

Sekitar lima tahun yang lalu ayah Arya meinggal dunia karena sakit, pergi untuk selamanya meninggalkan Arya dan ibunya. Arya memang anak satu-satunya, dan semenjak itu dialah satu-satunya yang ibunya miliki. Setelah kepergian ayahnya, sang ibu yang bekerja di sebuah perusahaan swasta harus bekerja keras untuk menghidupi keluarga mereka. Tahun demi tahun mereka hadapi hanya berdua, dan untunglah penghasilan ibunya dapat menghidupi mereka berdua hingga Arya dapat menginjak sekolah menengah. Namun saat itu juga ibu Arya mengenal seorang laki-laki bernama Sakti, teman sejawat ibu Arya di kantor. Sakti adalah seorang paruh baya yang masih lajang. Sakti memang orang yang baik dan sering membantunya dalam pekerjaan sehari-hari. Tetapi satu hal yang tidak dia sadari adalah, Sakti ternyata menaruh rasa kepadanya, terutama semenjak kepergian suaminya.

Beberapa tahun setelah kepergian suaminya, Sakti memberanikan diri untuk melamarnya. Ibu Arya bingung, tapi di satu sisi dia memang menyukai Sakti. Lagi pula dia juga membutuhkan sosok pria yang dapat menopangnya, membutuhkan figur sosok suami. Setelah lama memikirkan hal itu, akhirnya dia memutuskan menerima lamaran Sakti. Dia memberitahu Arya, namun Arya tidak menyambut baik niatnya. Baginya tidak ada seorang pun yang dapat menggantikan ayahnya di rumahnya. Arya tidak menyetujui niat ibunya. Ibunya pun tidak menyerah, dia terus membujuk Arya dan memberinya pengertian. Sakti yang mengetahui penolakan Arya juga ternyata membantunya untuk membujuk Arya. Di sanalah ibu Arya melihat keseriusan Sakti untuk melamarnya dan menerimanya apa adanya. Ibunda Arya semakin yakin, dan mereka berdua pun semakin gencar membujuk Arya. Hingga perjuangan mereka ternyata membuahkan hasil, Arya menyetujui pernikahan mereka. Walaupun Arya tidak begitu saja menyukai Sakti yang menggantikan peran ayahnya di rumah, tapi setidaknya dia mengizinkan ibunya menikah lagi. Mereka berdua sangat senang akhirnya Arya memberikan izinnya, dan pernikahan pun di gelar.

Sayangnya kehidupan mereka setelah menikah tidak seindah seperti yang mereka bayangkan. Sakti dan Arya sering bertengkar. Ternyata masih ada perlawanan di dalam diri Arya terhadap Sakti, dan Sakti pun mencoba terus bersabar akan sikap Arya. Tapi keadaan itu tidak bertahan lama, malah semakin parah. Sakti pun sering lepas kendali, mungkin sudah tidak tahan melihat sikap Arya yang terus-menerus menekan dirinya. Hingga hari itu secara lepas kendali Sakti memukul wajah Arya, dan setelah itu dia sangat menyesal. Sakti merasa seperti ada sesuatu mengendalikan dirinya untuk beberapa detik, dan akhirnya memukul Arya. Sebenarnya tindakan yang Sakti lakukan tidak sepenuhnya salah, karena saat itu perkataan Arya sudah sangat tidak bisa ditoleri lagi. Semua perkataan kasar dan memojokkan keluar dari mulutnya, siapa pun yang berada di posisi Sakti tentu tidak akan mudah mengendalikan diri. Tapi Sakti benar-benar menyesal, setelah kejadian itu dia terus saja meminta maaf kepada Arya. Namun sayangnya Arya tidak mendengar perkataannya, ia langsung membereskan barangnya, dan pergi dari rumah.

Setelah Arya pergi dari rumah, keadaan ibunya juga berubah menjadi buruk. Sakti hanya bisa menyakinkan kepadanya bahwa Arya mungkin sedang emosi, dan akan kembali ke rumah. Arya hanya perlu waktu untuk sendiri dan memikirkan semua ini, ketika dia sudah mendapat cukup waktu untuk memikirkan keadaan yang sedang dihadapi, maka dia akan kembali ke rumah, dan keadaan akan membaik.

“Tapi gimana kalo Arya tidak kembali ke rumah?” tanya ibunya kepada Sakti.

“Aku akan mencarinya dan membawanya pulang. Dengan cara apa pun aku akan membujuknya pulang, walaupun harus mengorbankan diri sendiri. Aku janji,” ujar Sakti kepada istrinya.

******

Hari sudah sore, Arya tidak tahu harus kemana. Dia butuh tempat tinggal untuk sementara ini. Terbesit untuk tinggal di rumah teman-teman sekolahnya, tapi kemudian dia berpikir lagi. Jika saja dia tinggal di sana, ibunya dan Sakti akan menemukannya dengan mudah, dan ia tidak mau hal itu terjadi. Dia berpikir keras mencari temannya yang tidak pernah dikenal oleh ibunya, agar dia tidak mudah untuk ditemukan. Arya berjalan cepat seraya menggendong tas ranselnya dan pikirannya sedang berusaha menyortir nama-nama temannya yang tepat untuk dia datangi. Setelah beberapa menit berpikir, akhirnya dia mendapatkan satu nama yang tidak pernah terpikirkan oleh ibunya.

Arya segera mencegat sebuah angkutan kota dan menaikinya. Dia menuju sebuah tempat, tempat yang sama sekali tidak akan terlintas di kepala ibunya. Selama berada di dalam angkutan kota, Arya terlihat gelisah. Dia ingin cepat-cepat sampai, dan berharap mudah-mudahan teman yang dia tuju masih tinggal di sana. Selang beberapa menit, angkutan kota itu berhenti di pinggir jalan besar. Tepat di sisi jalan besar itu ada sebuah tembok tinggi yang berdiri menutupi apa yang berada di baliknya. Arya sesaat menatap tembok itu, kemudian menaikkan tali tas ranselnya, dan melewati tembok itu melalui sebuah celah.

Ternyata tembok itu adalah pemisah antara jalan dan rel kereta api. Arya tidak terlihat terkejut, dia berjalan menyelusuri rel kereta api yang membentang panjang. Dari kejauhan dia melihat beberapa rumah kardus yang berdiri liar di bantaran rel. dengan seksama Arya memperhatikan satu persatu rumah kardus tersebut. Arya seperti mencari sesuatu, dan akhirnya dia berhenti pada sebuah rumah kardus dengan banyak stiker di bagian rumah kardus itu, dan menemukan seorang pemuda seumuran tengah tertidur lelap di dalamnya.

“Woy, bangun.” Arya berteriak ke pemuda itu seraya menggoyangkan tubuh pemuda itu. Sontak pemuda itu terkejut dan menoleh ke arahnya. Ketika melihat wajah Arya yang cengengesan, pemuda itu langsung menundukkan kepalanya.

“Ngapain lo kemari, ganggu gue tidur aja.” Ternyata pemuda itu adalah Toing, teman Arya semasa SMP.

Toing adalah teman sekelasnya ketika masih duduk di bangku SMP, namun sayang orangtuanya bercerai ketika dia menginjak kelas dua SMP, dan tidak ada satu pun dari mereka yang mau menerimanya. Apalagi semenjak ayah dan ibunya menikah lagi dan punya anak lagi, dia pun tidak pernah diperhatikan lagi. Karena sudah merasa dibuang oleh orangtuanya sendiri, akhirnya Toing memutuskan hidup di jalanan. Dia meninggalkan rumah dan putus sekolah semenjak saat itu, tapi pertemannya dengan Arya tidak berhenti sampai di situ. Mereka tetap berteman dan sesekali menghabiskan waktu bersama. Arya tidak pernah peduli dengan keadaan Toing, baginya Toing tetap temannya. Sebenarnya nama asli Toing adalah Anto, tapi entah mengapa ia dipanggil Toing. Sedikit menggelikan bagi Arya.

“Gue tinggal di sini ya sama lo?” pinta Arya. Toing kaget, ia memandangi wajah Arya.

“Kenapa lo? Berantem sama nyokap lo?” jawab Toing seraya menyalakan sebatang rokok.

“Udah ah, males gue ngomonginnya,” Raut wajah Arya berubah drastis, sama sekali tidak ingin membicarakan hal itu.

“Gue heran deh sama lo, kenapa sih lo gak pernah bisa akrab sama bokap baru lo? Padahal kalo gue liat dia orangnya baik, dan nyokap lo juga masih sayang sama lo.” Toing menyisir rambut panjangnya menggunakan jari-jarinya yang kotor.

“Intinya gue gak suka sama dia, dan gak ada yang bisa gantiin bokap gue. Satu lagi, dia bukan bokap gue. Udah jangan banyak omong, boleh gak gue tinggal di sini? Susah amat.” Emosi Arya tiba-tiba muncul, Toing tertawa.

“Sabar dong, kenapa jadi marah-marah? Boleh aja, asal lo suka. Yaa lo tau sendiri kan hidup dan tempat tinggal gue kayak apa…”

"Iya gue tau, santai aja,” jawab Arya enteng.

“Oke kalo gitu, ya tinggal aja di sini sesuka lo.” Toing meniupkan asap rokok ke udara.

“Nah gitu dong, eh udah sore nih. Tunjukkin gue tempat mandinya dong, gue mau mandi. Abis itu kita makan, gua yang trarktir,” tawar Arya. Toing tersenyum lebar.

Lihat selengkapnya