“Kak, aku laper,” kata Dina, adikku.
Wajahnya terlihat sengat memelas, sambil berbaring dia menatapku. Tidak heran jika dia bilang begitu, karena memang menu makan malam tadi sebenarnya bukan menu kesukaannya. Sebuah ikan asin goreng dan sayur daun singkong tidak pernah masuk ke dalam menu makanan Dina. Aku bingung, apa yang harus kuberikan kepadanya malam ini. Jam di kamar berbilik bambu ini sudah menunjukkan pukul sebelas malam, waktu ketika seluruh makanan tentunya sudah habis dan tidak ada apa-apa lagi di dapur. Kebiasaan memasak yang hanya saat jam makan menjelang kadang memang menyiksa, terutama bila rasa lapar tiba-tiba muncul di jam yang memang bukan jam makan. Tapi dalam kamus Dina adikku, dia memang tidak makan sama sekali tadi. Kasihan dia, jika saja aku tahu akan seperti ini, aku akan membawa sedikit bekal dari rumah kami. Tapi celakanya aku tidak memikirkan hal itu sama sekali saat berangkat dari rumahku pagi tadi, ibu dan ayah sangat terburu-buru tadi. Aku tidak sempat memikirkan apa yang mungkin terjadi.
“Jika kita terlalu siang berangkat, kita akan sampai di sana malam hari,” ujar ayah dari dalam mobilnya. Lagi pula aku tidak pernah menyangka bahwa ada saudara ayahku yang tinggal di kaki gunung seperti ini. Desa kecil di kaki gunung itu memang memiliki pemandangan yang sangat indah, namun cara mereka hidup sangat berbeda dengan kondisi pada umumnya, terutama makanan yang mereka makan. Untuk mencari air putih saja sangat sulit, aku hanya bisa mendapatkan air teh tawar untuk minum sehari-hari. Rasanya tidak enak untukku, terasa sedikit pahit dan sepat di lidah. Sepertinya Dina juga merasakan itu, malah mungkin lebih parah.
Aku masih belum menemukan sesuatu untuk kuberikan kepada Dina agar rasa laparnya hilang. Kurogoh tas rasnselku, tapi aku tidak dapat menemukan apa-apa, hanya sampah bekas kemasan makanan kecil yang tentunya sudah habis kumakan selama enam jam perjalanan ke sini.
“Kak Ratih, aku laper… gimana dong?” tegas Dina. Kini ia merengek, aku kadang suka sebal jika Dina merengek. Dia sudah besar, sudah kelas enam SD, kenapa masih saja suka merengek seperti anak taman kanak-kanak.
“Iya sebentar, kakak liat dulu ada makanan gak.”
Akhirnya aku menyerah, aku bangkit dan keluar kamar. Mudah-mudahan ada sesuatu yang dapat dimakan di dapur. Ku buka pintu kamar yang terbuat dari triplek yang cukup tipis, sebisa mungkin tidak menghasilkan suara. Aku takut membangunkan orangtuaku dan saudara-saudaraku yang sedang tidur. Kupandangi ruang tamu dari dalam, sudah gelap ternyata, lampu-lampunya sudah padam. Aku melihat ke arah dapur ternyata lampu bohlam berwarna oranye masih menyala. Aku pun mengembuskan napas lega. Kulangkahkan kaki menuju dapur, beberapa kali menoleh ke belakang khawatir jika ada yang terbangun.
Dapur ini sangat tradisional, tidak ada satu pun peralatan modern. Bahkan sebuah tungku kompor minyak tanah sangat modern di dapur ini, padahal kompor itu akan sangat ketinggalan zaman jika berada di dapur rumahku. Kusebar pandangan untuk mencari sesuatu yang dapat kubuatkan untuk Dina, dan pandanganku berhenti pada sebuah rak kayu tempat menyimpa piring-piring makan, ada sebungkus mi instan di sana. Aku pun bahagia bukan main, segera kuhampiri sebungkus mi instan itu dan kuraih dengan cepat.
Kuputar-putar tuas tungku kompor minyak itu agar sumbu di dalamnya keluar, dan kunyalakan dengan api dari sebuah korek kayu. Beberapa menit kemudian api menyala, dan tidak lupa kuletakkan sebuah panci berisi air bersih. Saat sedang menunggu air itu bergolak, kuambil sebuah mangkuk kecul dan kutaruh bumbu mi instan di dalamnya. Semua selesai dalam waktu beberapa detik. Kini yang harus kulakukan adalah menunggu mi matang. Aku duduk di sebuah meja kayu yang berada di dalam dapur.
Dalam hati aku bertanya-tanya sudah pukul berapakah ini, karena aku merasa sepertinya malam sudah beranjak larut. Udara pun semakin dingin dan berangin. Ya, aku merasa ada angin dingin menerpa tengkukku, membuat seluruh tubuhku bergidik. Bukan bergidik dingin, tapi bergidik takut. Aku pun termenung di meja itu, namun itu tidak berlangsung lama. Aku mendengar suara seseorang tertawa, suara yang sepertinya berasal dari balik bilik dapur. Suara tawa itu adalah suara tawa perempuan, dan terdengar nyaring, sangat keras menggema di keheningan malam. Yang membuatku semakin ngeri adalah suara tawa itu terdengar terbahak-bahak dan dapat berubah tawa cekikikan.
Aku memperhatikan sekelilingku, tidak ada siapa-siapa di sana. Sepertinya saat itu tidak ada seseorang pun yang keluar rumah di tengah malam, apalagi tertawa keras-keras seperti itu. aku segera bangkit dan mengaduk mi instan, yang sialnya ternyata masih setengah matang. Kuaduk-aduk mi instan itu berharap dapat membuatnya cepat matang, tindakan yang sia-sia. Tubuhku masih merinding, dan rasa takut masih menguasai diriku ketika tiba-tiba suara gaduh yang keras terdengar dari atas atap dapur. Aku kaget bukan kepalang, suara itu seperti sesuatu yang jatuh ke atap.
Seketika padanganku terpatri ke atas, kuperhatikan dengan seksama genting berwarna coklat muda itu. Namun setelah suara gaduh itu, tiba-tiba ada sebuah suara langkah kaki terdengar. Ada seseorang berjalan tertatih di atas atap dapur! Aku yakin itu, suara kakinya diseret terdengar sangat nyata di telingaku. Tidak salah lagi, ada sesuatu datang malam ini, dan sesuatu itu ada di atas atap dapur dan yang lebih parah lagi dia sedang berjalan turun dari atap. Aku segera mengangkat panci mi instan, dan mengguyurnya ke mangkuk. aku bergegas meninggalkan dapur dengan semangkuk mi instan untuk Dina, aku bahkan tidak menoleh lagi ketika meninggalkan dapur. Jantungku sudah berdetak cepat saat itu. Ada sesuatu yang datang, aku yakin sekali. Ada sesosok yang datang dari luar rumah.
Sesampainya di kamar, langsung kuberikan semangkuk mi instan itu kepada Dina. Rona wajahnya terlihat sangat senang, dia langsung memakannya sedangkan aku hanya bisa melihatnya dengan senyuman miris. Kami langsung tidur setelah Dina selesai makan, dan aku tidak mau mengingatnya lagi kejadian di dapur itu. Sebelum kami tertidur, Dina sempat menanyakan mengapa raut wajahku berubah menjadi tegang, tapi aku tidak mengatakan apa-apa kepadanya. Aku hanya menyuruhnya lekas tidur karena malam sudah sangat larut. Untung saja dia menurut.
Sebenarya aku menyuruhnya cepat tidur bukan hanya karena malam sudah larut, namun aku masih takut sosok di dapur tadi datang ke kamar kami karena menyadari kami belum tidur. Aku memang tidak tahu sosok itu apa, tapi di desa terpencil yang hidup di kaki gunung dan hutan-hutan lebat seperti ini, pasti sosok itu bukanlah sosok yang menyenangkan.
Tetapi aku tidak mau banyak menduga-duga, sebenarnya aku pun masih ketakutan. Oleh karena itu aku pun tidak mau terjaga lebih lama lagi, lebih baik aku cepat-cepat tidur juga. Beberapa menit setelah Dina tertidur pulas, aku pun tertidur.
*****
Keesokan paginya aku terbangun saat Dina membangunkanku, ternyata dia sudah bangun terlebih dahulu.
“Bangun kak, kata bunda suruh bangun terus mandi,” ujar Dina saat melihat kelopak mataku terbuka. Aku pun beranjak.
Ketika aku sudah bangun total, Dina pergi keluar kamar. Setelah selesai mandi, ternyata orangtuaku dan Dina sudah sarapan, sehingga aku harus sarapan sendirian. Dengan mata masih menerawang aku duduk di kursi kayu ruang makan. Ternyata pagi ini menunya cukup bersahabat, pantas saja Dina sudah makan. Sepiring besar nasi goreng terhidang di atas meja makan. Melihat tampilannya, sepertinya ini masakan ibukku. Saat kumakan, ternyata benar ini memang masakan ibuku.
“Kamu semalem kedapur ya?” tanya pamanku. Aku merasa kaget, aku pikir tidak ada yang terjaga semalam.
“Kok paman tahu? Semalem Dina laper jadi aku bikinin mi di dapur,” jawabku lancar.
“Paman liat piring di dapur tadi subuh. Besok-besok kalo keluar malem-malem mending bangunin paman aja ya.” Mata pamanku menatapku serius.
“ Loh, memangnya kenapa paman?” tanyaku heran.
“Ya namanya juga inikan di desa, gak baik anak perempuan sendirian di dapur tengah malem,” suara pamanku terdengar sedikit serak.
“Oh gitu, emangnya di desa seperti di sini ada apaan paman?” tanyaku semakin penasaran.
“Di sini masih banyak makhluk-makhluk halusnya Ratih, mereka kadang suka dateng tengah malem dari hutan.” Pamanku menatapku dalam.