Sebentar lagi tengah malam, jika perhitunganku tidak salah. Mungkin sekitar kurang dari tiga menit lagi, dan saat ini kedua tanganku sudah memegang penyumbat telinga. Selimut tebal pun sudah siap menutupi wajahku.
Ini memang tidak adil. Di saat kedua orang tuaku mungkin sedang tidur terlelap, aku harus gemetaran di atas tempat tidurku sendiri dan menunggu teror itu datang. Tepat tengah malam ini.
Jauh di dalam diriku, aku lelah. Sudah beberapa minggu ini tidurku tidak teratur, aku pun jadi sering tertidur di kelas saat jam pelajaran. Guru-guruku mungkin sudah mulai bosan dengan tingkahku, aku sendiri pun begitu. Tapi apa yang bisa kuperbuat? Dua sosok yang tinggal di kamarku ini terlalu menyeramkan, namun di sisi lain aku juga tidak bisa seperti ini terus menerus. Masih ada kurang dua menit lagi untuk berpikir dan mengumpulkan keberanianku. Aku harus menghentikan teror ini, mengatakan kepada mereka bahwa aku lelah diperlakukan seperti ini. Memangnya apa sih mau mereka? Mereka kan sudah mati, apalagi yang mereka inginkan? Jika mereka datang untuk mencekiku sampai mati, mengapa mereka tidak melakukannya semenjak malam pertama aku tidur di kamarku ini?
Ya, aku tahu sekarang. Aku harus menghentikan mereka, tidak ada cara lain lagi. Satu menit lagi sudah tengah malam, dan sedikit lagi mereka keluar. Aku harus bersiap-siap. Aku mengakat tubuhku dan bersandar di kepala tempat tidurku, kedua tanganku meremas selimut tebalku untuk mengurangi efek gemetaran yang cukup hebat. Suasana di kamarku sudah hening, tidak ada suara apa pun selain deru napasku sendiri. Ketika aku hendak mengelap keringatku, jam dinding di kamar menunjukkan tepat tepat pukul dua belas malam. Mereka akan datang.
Suara berisik dari bawah tempat tidurku adalah yang paling pertama mengagetkanku. Tubuhku tersentak beberapa kali karena terlalu tegang. Suara berdecit nyaring mulai menyayat telingaku, membuatku beberapa kali memiringkan kepalaku ke kanan karena lengkingannya, seperti ada seseorang yang menyeret tubuhnya mengunakan kukunya sendiri di lantai.
Beberapa saat kemudian, suara ketukan pelan menyusul dari balik lemari besar itu. Berbeda dengan malam-malam selanjutnya, ketukan itu terdengar sangat pelan namun berulang kali, hingga akhirnya pintu lemari terbuka pelan-pelan. Dari kejauhan aku dapat melihat nenek itu mulai merangkak keluar. Otot-ototku mulai terasa kaku, dan jantungku berdebar kencang. Gigi-gigi rahangku saling beradu mengeluarkan suara gemeretak yang cukup keras. Kuangkat selimutku hingga dada saat tubuh tua yang kurus itumulai merangkak keluar dari dalam lemari. Bau busuk bercampur wangi tercium menyengat di dalam kamarku.
Nenek itu berjalan pelan-pelan dengan langkah yang patah-patah, namun terlihat menatap, mendekatiku yang bisa berbaring di atas tempat tidur. Aku sangat tercengang melihat sosok nenek-nenek yang menyeramkan itu; kedua matanya menatap ke arahku, tatapan yang begitu tajam dan dapat membuatku mati ketakutan kapan saja dia mau. Dalam keadaan genting seperti itu, selimut tebal yang aku genggam erar-erat perlahan-lahan mulai turun tanpa kusadari. Selimut itu menuruni dadaku, hingga perut. Menyadari hal itu, aku menarik kembali selimutku. Namun saat itu, dua tangan yang berlumuran darah muncul dari sisi tempat tidur. Kedua tangan itu menggenggam selimutku sangat kencang. Aku sudah tidak tahan. Keberanianku hilang begitu saja, seperti debu yang tertiup angin kutarik kencang selimutku, dan kututupi wajahku.
Suasana kembali berubah jadi hening, tidak ada tanda-tanda keberadaan sosok-sosok menyeramkan itu, tidak ada tanda-tanda suara yang menyeramkan.
Aku pun memberanikan diri membuka mata dan melihat kondisi kamarku dari dalam selimut. Tapi ternyata aku salah. Dua sosok menyeramkan itu berdiri tepat di hadapanku. Mereka menatapku, si nenek tua yang kurus bahkan sempat bergerak beberapa kali, membuat suara tulang yang saling berbenturan. Aku perlu waktu sebentar untuk menyeimbangkan napasku yang sudah kepalang berantakan, membuat dadaku terasa hangat dan nyeri. Bola mataku terasa panas, padahal air mataku pelan-pelan mulai jatuh membasahi kulit wajahku yang dingin.