Suara Jakarta tidak pernah benar-benar tidur.
Deru mesin kendaraan, bunyi klakson yang saling bersahutan, teriakan pedagang kaki lima, dan langkah kaki manusia yang terburu-buru bercampur menjadi satu irama bising yang setiap hari memenuhi kota itu. Namun malam itu, semua suara tersebut hanya terdengar seperti gema jauh bagi Ridwan.
Dari balik jendela kontrakan kecil mereka di sebuah gang sempit, cahaya lampu jalan yang redup masuk melalui celah tirai yang sudah mulai pudar warnanya. Dinding kamar yang lembab meninggalkan bercak hitam di beberapa sudut. Kipas angin tua di atas kepala berputar lambat, menghembuskan udara panas yang sama sekali tidak mampu mengusir rasa pengap.
Ridwan duduk di ujung ranjang sambil menatap istrinya.
Murni diam di sana.
Wanita itu duduk bersandar pada dinding, satu tangannya mengusap lembut perutnya yang besar. Kandungannya telah memasuki bulan-bulan terakhir. Setiap gerakan kecil kini membutuhkan tenaga lebih. Berjalan beberapa langkah saja sering membuat napasnya terengah. Wajahnya masih menyimpan kelembutan yang sama seperti saat pertama kali Ridwan mengenalnya, tetapi beberapa bulan terakhir meninggalkan garis-garis lelah yang semakin terlihat.
Ridwan memperhatikan itu semua dalam diam.
Ada rasa bersalah yang perlahan tumbuh di dadanya.
Ia tahu istrinya berusaha kuat. Ia tahu Murni tidak pernah banyak mengeluh. Bahkan ketika malam-malam ia harus menahan rasa sakit sendirian karena Ridwan masih bekerja hingga larut, wanita itu selalu berkata bahwa semuanya baik-baik saja.
Padahal Ridwan tahu, tidak semuanya baik-baik saja.
Hidup di Jakarta tidak semudah bayangan mereka dulu.
Gaji sebagai buruh hanya cukup untuk membayar sewa kontrakan, kebutuhan sehari-hari, dan sedikit tabungan yang selalu habis karena ada saja kebutuhan mendadak. Keluarga Ridwan sendiri tidak banyak membantu. Bukan karena mereka tidak peduli, tetapi masing-masing memiliki masalah yang harus mereka urus.
Kini, ketika waktu persalinan semakin dekat, pertanyaan yang sama terus menghantui pikirannya.
Siapa yang akan menjaga Murni ketika ia bekerja?
Siapa yang akan membantunya ketika rasa sakit datang tiba-tiba?
Dan bagaimana jika sesuatu terjadi saat ia tidak berada di rumah?
Pikiran itu terus berputar hingga suara lembut Murni memecah kesunyian.
"Bapak menelepon lagi tadi siang, kang."
Ridwan mengalihkan pandangannya.
"Bapak?" tanyanya.
Murni mengangguk pelan.
"Iya. Bapak ingin kita pulang ke Cicempaka."
Nama desa itu terdengar sederhana. Namun entah mengapa, setiap kali Murni menyebutnya, selalu ada perasaan aneh yang muncul dalam hati Ridwan.
Cicempaka.
Sebuah desa kecil yang berada jauh di balik perbukitan. Tempat kelahiran Murni. Tempat yang selama ini hanya ia dengar dari cerita-cerita istrinya.
Desa yang dikelilingi hutan lebat.
Desa yang katanya Akangih memegang banyak adat lama.
Desa yang bagi sebagian orang adalah tempat penuh kedamaian.
Tetapi bagi Ridwan, desa seperti itu hanyalah sebuah tempat terpencil yang jauh dari kemajuan.
"Bapak bilang, cucu pertamanya harus lahir di sana," lanjut Murni. "Katanya rumah lebih luas, udaranya lebih bersih, dan aku bisa lebih tenang."
Ridwan tidak langsung menjawab.
Matanya menatap lantai.
Sebagai seseorang yang hidup di kota, Ridwan selalu percaya pada sesuatu yang bisa dilihat dan dijelaskan. Ia percaya pada ilmu pengetahuan, bukti, dan logika. Baginya, cerita tentang pertanda, makhluk gaib, atau pantangan-pantangan desa hanyalah warisan Akanga lalu yang tidak memiliki tempat di kehidupan modern.
Sejak kecil ia selalu diajarkan untuk berpikir rasional.
Jangan takut pada sesuatu yang tidak terlihat.
Jangan percaya pada sesuatu yang tidak terbukti.
Namun malam itu, melihat istrinya yang semakin lemah, semua keyakinan itu mulai berhadapan dengan kenyataan.
Murni membutuhkan bantuan.
Dan Cicempaka mungkin adalah satu-satunya pilihan mereka.
"Bapak juga sudah menyiapkan kamar untuk kita," kata Murni lagi. "Katanya semuanya sudah diperbaiki. Bahkan tempat persalinan juga sudah dipersiapkan."
Ridwan menghela napas.
Ia mengenal Ramlan, ayah Murni, sebagai lelaki yang keras tetapi bertanggung jawab. Seumur hidupnya, pria tua itu dikenal sebagai orang yang disegani di Cicempaka.
Dulu, Ramlan adalah tangan kanan Lurah Ki Maryadi. Banyak orang desa mengenalnya sebagai mantan centeng yang memiliki keberanian luar biasa. Tubuhnya mungkin sudah tidak sekuat dulu, tetapi pengaruhnya masih terasa. Orang-orang tua di desa masih menghormatinya.