Jalan menuju Cicempaka perlahan kehilangan bentuknya.
Aspal hitam yang sebelumnya membentang di bawah roda mobil sewaan mereka mulai berubah menjadi jalan tanah berbatu yang tidak rata. Lubang-lubang besar menghiasi jalur sempit itu, memaksa kendaraan berjalan perlahan melewati medan yang semakin sulit.
Di kanan dan kiri jalan, pepohonan tumbuh semakin rapat.
Batang-batang pohon tua menjulang tinggi, menutupi sebagian cahaya matahari yang mulai condong ke barat. Sesekali angin berembus melewati celah pepohonan, membawa suara gemerisik daun yang terdengar seperti bisikan samar.
Ridwan menatap keluar jendela.
Pemandangan Jakarta yang penuh gedung tinggi, kendaraan, dan suara manusia sudah lama hilang. Tidak ada lagi suara klakson. Tidak ada lagi lampu kota. Tidak ada lagi keramaian yang membuatnya merasa nyaman.
Yang tersisa hanyalah kesunyian.
Kesunyian yang terlalu dalam.
Udara yang masuk melalui celah kecil jendela mobil terasa berbeda. Lebih dingin. Lebih lembap. Ada aroma tanah basah bercampur dedaunan yang membusuk, seperti bau hutan yang tidak pernah tersentuh manusia.
Ridwan mengusap lengannya sendiri.
Entah mengapa, sejak memasuki wilayah perbukitan itu, perasaan tidak nyaman perlahan muncul dalam dirinya.
Namun ia segera menepisnya.
Mungkin hanya karena perjalanan yang terlalu jauh.
Mungkin hanya karena tempat ini memang asing baginya.
Ia bukan orang yang mudah percaya pada hal-hal yang tidak masuk akal.
Di kursi sebelah, Murni duduk diam.
Sejak meninggalkan jalan utama, wanita itu hampir tidak banyak bicara. Tangannya terus menggenggam perutnya yang besar, seolah memastikan bayi di dalam kandungannya tetap aman.
Ridwan beberapa kali meliriknya.
Ia mengenal istrinya.
Murni bukan tipe orang yang mudah takut. Bahkan ketika mereka menghadapi kesulitan hidup di Jakarta, wanita itu selalu berusaha tersenyum.
Tetapi kali ini berbeda.
Ada kegelisahan yang tidak bisa disembunyikan.
"Sebentar lagi sampai, kan, Sayang?" tanya Ridwan lembut.
Murni menoleh.
Senyum kecil muncul di wajahnya, tetapi tidak mampu menyembunyikan kecemasan di matanya.
"Iya, kang."
Ia melihat ke depan.
"Sebentar lagi kita melewati gapura batas desa. Setelah itu sudah masuk wilayah Cicempaka."
Ridwan mengikuti arah pandangan istrinya.
Di kejauhan, di antara kabut tipis yang mulai turun, terlihat sesuatu berdiri di tengah jalan.
Sebuah gapura tua.
Semakin dekat, semakin jelas bentuknya.
Dua tiang kayu besar menopang papan melintang yang catnya sudah mengelupas. Lumut hijau menutupi sebagian permukaan kayu, membuat tulisan di atasnya sulit dibaca.
Di belakang gapura itu berdiri sebuah pohon beringin raksasa.
Pohon itu begitu besar hingga beberapa akarnya muncul keluar dari tanah seperti ular-ular panjang yang membelit bumi. Cabang-cabangnya menjulur ke segala arah, membentuk bayangan gelap seperti tangan raksasa yang menggantung di udara.
Ridwan memperhatikan pohon itu.
"Aneh," gumamnya.
"Apa, kang?" tanya Murni.
Ridwan tidak menjawab.
Ia sendiri tidak tahu mengapa pemandangan itu membuat dadanya terasa sesak.
Seolah-olah pohon tersebut bukan sekadar pohon.
Seolah-olah sesuatu sedang berdiri di sana.
Mengawasi.
Tiba-tiba—
CIIIIIITTTTT!
Suara rem mobil memecah kesunyian.
Tubuh Ridwan terdorong ke depan. Refleks, ia langsung merentangkan tangan melindungi Murni yang terkejut.
"Ada apa, Pak?!" bentaknya kepada sopir.
Pria paruh baya yang mengemudi itu hanya diam.
Wajahnya berubah pucat.
Tangannya masih menggenggam kemudi erat.
Ridwan mengikuti arah pandangannya.
Dan saat itulah ia melihat seseorang berdiri tepat di depan mobil.
Seorang wanita.
Tubuhnya kurus dan tampak sangat lemah. Pakaiannya compang-camping, penuh noda tanah. Rambutnya panjang, kusut, dan menggumpal seperti tidak pernah disentuh air selama bertahun-tahun.
Wanita itu berdiri membungkuk.
Lalu perlahan mengangkat wajahnya.
Ridwan terdiam.
Wajah wanita itu penuh coretan tanah kering. Matanya merah dan membelalak lebar. Tatapannya liar, tetapi bukan sekadar tatapan orang gila.
Ada ketakutan besar di sana.
Ketakutan seseorang yang pernah melihat sesuatu yang mengerikan.
Tiba-tiba wanita itu berlari mendekati mobil.
Tangannya menghantam kap kendaraan.
DUK!
DUK!
DUK!
"Kembali!"
Suaranya serak dan pecah.