Pagi pertama di Kampung Cicempaka tidak membawa ketenangan yang seharusnya.
Bagi sebagian orang, suasana desa mungkin adalah gambaran tentang kedamaian. Udara segar, pepohonan hijau, suara burung di pagi hari, dan kehidupan yang jauh dari hiruk-pikuk kota.
Namun bagi Ridwan, pagi itu terasa berbeda.
Ada sesuatu yang ganjil.
Sesuatu yang tidak terlihat, tetapi terasa.
Cahaya matahari memang mulai menyusup melewati celah-celah pepohonan besar yang mengelilingi rumah kayu milik Ramlan. Embun masih menggantung di ujung daun, dan suara ayam berkokok terdengar dari kejauhan.
Tetapi dinginnya udara Cicempaka bukan hanya berasal dari angin pegunungan.
Ada kesunyian yang terasa terlalu dalam.
Seolah seluruh desa sedang menahan napas.
Ridwan berdiri di depan rumah sambil memandang hamparan pepohonan yang membentang jauh hingga ke kaki bukit. Rumah-rumah warga terlihat sederhana, sebagian besar masih terbuat dari kayu dengan halaman luas yang dipenuhi tanaman.
Pemandangan itu sebenarnya indah.
Tetapi bayangan kejadian kemarin masih melekat kuat di pikirannya.
Wajah wanita bernama Acih.
Tatapan matanya.
Dan peringatan mengerikan tentang sesuatu yang disebut warga sebagai Setan Bunting.
Ridwan menggelengkan kepala.
Ia masih mencoba meyakinkan dirinya bahwa semua itu hanyalah ketakutan masyarakat desa yang terlalu percaya pada cerita lama.
Tidak ada hantu.
Tidak ada makhluk yang mencuri bayi.
Tidak ada sesuatu yang mampu melawan akal sehat manusia.
Setidaknya, itu yang selalu ia yakini.
"Kang."
Suara Murni membuatnya menoleh.
Istrinya berdiri di ambang pintu sambil tersenyum kecil.
Pagi itu wajah Murni terlihat lebih segar dibanding kemarin. Mungkin karena akhirnya ia kembali ke rumah masa kecilnya. Tempat yang penuh kenangan. Tempat di mana ayahnya masih berada.
"Kita ke pasar, yuk," katanya.
Ridwan tersenyum.
"Pasar?"
"Iya. Aku mau beli beberapa bahan makanan. Bapak bilang pasar buka pagi-pagi."
Ridwan melihat perut istrinya.
"Kamu kuat jalan?"
Murni mengangguk.
"Pelan-pelan saja."
Ridwan sebenarnya ingin melarang. Setelah kejadian di gapura, ia merasa lebih baik Murni beristirahat di rumah.
Namun melihat wajah bahagia istrinya, ia tidak tega.
Akhirnya ia mengambil keranjang bambu yang tergantung di dinding.
"Ya sudah. Mas temani."
Pasar Cicempaka tidak seperti pasar yang biasa Ridwan temui di Jakarta.
Tidak ada suara kendaraan yang bersahutan.
Tidak ada lampu terang.
Tidak ada gedung atau toko besar.
Hanya deretan lapak sederhana beratap terpal dan kayu. Para pedagang duduk di belakang barang dagangan mereka, menawarkan hasil kebun, ikan, daging, dan berbagai kebutuhan sehari-hari.
Aroma tanah basah bercampur dengan bau sayuran segar memenuhi udara.
Di satu sisi pasar, terdengar suara ibu-ibu menawar harga cabai.
Di sisi lain, beberapa lelaki berbincang sambil menyeruput kopi hitam.
Semuanya terlihat normal.
Namun ketika Ridwan berjalan bersama Murni melewati lorong pasar, ia mulai menyadari satu hal.
Orang-orang memperhatikan mereka.
Bukan sekadar melihat.
Tetapi memperhatikan.
Beberapa warga tersenyum ketika melihat Murni.
Namun senyum itu segera berubah ketika mata mereka jatuh pada perut besar wanita itu.
Mereka kemudian saling berbisik.
Ridwan menangkap beberapa tatapan yang terasa aneh.
Seolah kedatangan Murni bukan sesuatu yang dinantikan.
Melainkan sesuatu yang dikhawatirkan.
"Kamu merasa mereka melihat kita aneh?" bisik Ridwan.
Murni menoleh.
"Siapa?"
"Itu. Orang-orang."
Murni diam sejenak.
Lalu tersenyum kecil.
"Mungkin karena aku sudah lama tidak pulang."
Ridwan tidak sepenuhnya percaya.
Tetapi ia memilih diam.
Mereka berhenti di sebuah lapak sayuran milik seorang wanita paruh baya bernama Wak Ijah.