TEROR SETAN BUNTING

Ahmad Barnash
Chapter #4

KISAH TRAGIS WANITA HAMIL

Malam turun perlahan di Kampung Cicempaka.

Namun bersama gelap yang menyelimuti desa, sesuatu yang lain ikut datang.

Sebuah rasa takut yang tidak terlihat.

Sejak kejadian di pasar pagi tadi, rumah kayu milik Ramlan terasa berbeda bagi Murni. Tempat yang dulu ia kenal sebagai rumah penuh kenangan kini justru terasa asing.

Setiap sudut ruangan seperti menyimpan sesuatu.

Setiap suara kecil terdengar lebih jelas.

Bunyi kayu tua yang berderit.

Suara angin yang menyusup melalui celah dinding.

Bahkan suara langkah kaki hewan kecil di bawah rumah terdengar seperti seseorang yang sedang berjalan perlahan mengitari tempat itu.

Murni duduk di atas ranjang.

Kedua tangannya memeluk erat perutnya yang besar.

Sejak sore tadi, pikirannya tidak pernah benar-benar tenang.

Ucapan wanita-wanita di pasar terus terngiang di kepalanya.

"Kampung ini tidak aman untuk perempuan yang sedang mengandung."

"Ada sesuatu yang selalu datang ketika perempuan hamil besar kembali ke Cicempaka."

Dan yang paling membuatnya tidak mampu melupakan semuanya...

"Setan Bunting sudah mencium darahnya."

Murni menggigil kecil.

Ia mencoba menghapus bayangan buruk itu, tetapi semakin ia berusaha, semakin jelas bayangan seorang wanita dengan rambut panjang dan wajah pucat muncul dalam pikirannya.

"Sayang..."

Suara Ridwan membuatnya tersentak.

Murni menoleh.

Suaminya baru saja masuk membawa segelas air hangat.

Ridwan meletakkannya di meja kecil samping ranjang, lalu duduk di sebelah istrinya.

"Kamu masih memikirkan kejadian tadi pagi?"

Murni tidak langsung menjawab.

Ia hanya menatap tangan Ridwan yang menggenggam jemarinya.

Hangat.

Berbeda dengan tangannya sendiri yang terasa dingin.

"Kang..."

"Iya?"

"Bagaimana kalau yang mereka ceritakan benar?"

Ridwan mengerutkan dahi.

"Benar tentang apa?"

Murni menarik napas panjang.

"Bagaimana kalau memang ada sesuatu di desa ini?"

Ia menunduk.

"Bagaimana kalau sesuatu itu benar-benar mengincar anak kita?"

Untuk beberapa detik, Ridwan hanya diam.

Ia melihat wajah istrinya.

Wajah yang selama ini selalu ia lindungi.

Wajah wanita yang rela meninggalkan kenyamanan kota demi mengikuti dirinya.

Ia tahu Murni tidak sedang bercanda.

Ketakutan itu nyata.

Namun Ridwan tidak ingin membiarkan ketakutan menguasai mereka.

Ia tersenyum kecil.

"Murni."

Tangannya mengusap rambut istrinya.

"Dengarin Akang."

"Yang mereka ceritakan itu hanya cerita."

Murni menatapnya.

"Di kota juga banyak cerita aneh. Banyak orang percaya hal-hal seperti itu. Tapi apakah semuanya benar?"

Ia menggeleng.

"Kita hidup di dunia nyata. Kalau ada orang yang membunuh, berarti ada manusia yang melakukan kejahatan. Bukan karena hantu atau makhluk gaib."

Murni diam.

"Mas tidak mau kamu stres karena cerita orang."

Ridwan mencoba tersenyum.

"Kamu sedang hamil. Yang paling penting sekarang adalah kesehatan kamu dan bayi kita."

Murni ingin percaya.

Ia ingin mengikuti logika suaminya.

Namun jauh di dalam hatinya, ada sesuatu yang mengganjal.

Karena semua orang di desa itu mengatakan hal yang sama.

Dan orang-orang yang takut biasanya bukan karena cerita kosong.

Malam semakin larut ketika suara percakapan terdengar dari teras rumah.

Ramlan duduk bersama dua orang tetua desa yang sengaja datang berkunjung.

Lampu minyak kecil menggantung di tiang teras, cahayanya bergoyang setiap kali angin bertiup.

Ridwan dan Murni duduk tidak jauh dari sana.

Awalnya Ridwan hanya ingin mendengar.

Ia ingin tahu mengapa satu desa bisa begitu percaya pada cerita yang menurutnya tidak masuk akal.

Salah seorang tetua desa, lelaki bernama Pak Jaya, menarik napas panjang sebelum mulai berbicara.

"Kalian mungkin sudah dengar tentang Setan Bunting."

Murni menunduk.

Lihat selengkapnya