Langit Kampung Cicempaka seolah kehilangan warnanya.
Sejak pagi, awan hitam bergelayut rendah menutupi matahari. Cahaya yang seharusnya menghangatkan desa berubah menjadi sinar pucat yang terasa dingin dan menyesakkan. Angin hampir tak berembus. Pepohonan bambu berdiri kaku, seolah menahan napas menghadapi sesuatu yang akan datang.
Burung-burung yang biasanya memenuhi langit menghilang entah ke mana.
Tak seekor pun jangkrik terdengar bersuara.
Kesunyian itu terasa tidak wajar.
Ridwan berdiri di beranda rumah Ramlan sambil memandangi langit. Entah mengapa, sejak semalam perasaannya terus diliputi kegelisahan. Ia berusaha mengabaikannya. Mungkin hanya pengaruh cerita-cerita menyeramkan yang terus didengarnya sejak tiba di desa.
Namun wajah Murni mengatakan hal berbeda.
Istrinya tampak jauh lebih pucat daripada biasanya. Berkali-kali ia mengusap perutnya yang semakin membesar, seolah ada sesuatu di dalam sana yang membuatnya tidak tenang.
"Kang..."
Murni memanggil lirih.
"Aku nggak tahu kenapa... dari tadi bayi kita terus bergerak."
Ridwan tersenyum tipis.
"Itu pertanda sehat."
Murni menggeleng pelan.
"Bukan... gerakannya beda. Rasanya seperti... ketakutan."
Ucapan itu membuat Ridwan terdiam beberapa detik.
Ia segera menggelengkan kepala, mencoba mengusir pikiran buruk yang mulai menyusup.
"Kamu terlalu banyak dengar cerita orang kampung."
Meski berkata demikian, Ridwan sendiri tidak benar-benar yakin.
Menjelang sore, udara berubah semakin pengap.
Awan hitam menutup seluruh langit tanpa menyisakan sedikit pun warna biru. Matahari seperti lenyap ditelan kabut kelabu.
Ridwan mengajak Murni berjalan-jalan ke pelataran balai desa agar pikirannya lebih tenang.
Di sana, suasana terlihat jauh lebih hidup.
Beberapa ibu sedang menumbuk padi.
Anak-anak berlarian mengejar layangan.
Beberapa pria duduk di gardu sambil menyeruput kopi.
Sekelompok ibu hamil berkumpul di bawah pohon beringin besar, saling bertukar cerita mengenai usia kandungan mereka.
Di antara mereka terdapat Santi.
Putri Dirman itu tengah mengandung tujuh bulan. Wajahnya cerah, sesekali tertawa kecil mendengar candaan para tetangganya.
Melihat itu, Murni akhirnya ikut tersenyum.
"Untung masih ada yang berani keluar rumah."
Ridwan mengangguk.
"Tuh, semuanya baik-baik saja."
Kalimat itu bahkan belum selesai ketika sesuatu terjadi.
"Brak!"
Gayung bambu yang dipegang Santi terjatuh begitu saja.
Air di dalamnya tumpah membasahi tanah.
Santi membeku.
Tubuhnya mendadak kaku seperti batu.
"Santi?"
Seorang ibu menyentuh lengannya.
"Kamu kenapa?"
Tak ada jawaban.
Napas Santi berubah berat.
Semakin lama semakin cepat.
Dadanya naik turun tak terkendali.
Terdengar bunyi seperti seseorang yang sedang tercekik.
"Ghhrr..."
Tubuhnya mulai bergetar.
Awalnya pelan.
Kemudian semakin keras.
Sampai seluruh badannya berguncang hebat.
"Santi!"
Para ibu mulai panik.
Belum sempat seorang pun memegangi tubuhnya...
Kepala Santi mendadak mendongak.
Pelan.
Sangat pelan.
Hingga lehernya membentuk sudut yang mustahil dilakukan manusia normal.
"Krek..."
Suara tulang beradu terdengar jelas.
Semua orang membisu.
Sepasang mata Santi perlahan berputar ke atas.
Hitam matanya lenyap.
Yang tersisa hanya putih pekat yang mengerikan.
Seorang ibu menjerit.
"Astagfirullah!"
Belum selesai keterkejutan mereka...
Tubuh Santi tiba-tiba terlempar ke belakang.
"Brukkk!"
Ia jatuh terlentang.
Namun beberapa detik kemudian...