Mentari pagi menyelinap lembut melalui jendela sebuah rumah sederhana yang dipenuhi tawa. Aroma kopi yang baru diseduh bercampur dengan harum bunga melati yang diletakkan di atas meja ruang tamu. Di sudut ruangan, beberapa katalog gaun pengantin, contoh undangan, dan buku catatan anggaran pernikahan berserakan.
Bhea tersenyum kecil sambil menuliskan daftar terakhir yang harus diselesaikan.
"Gedung, selesai. Katering, selesai. Dekorasi... tinggal konfirmasi."
Ia mengembuskan napas lega. Tinggal beberapa minggu lagi, ia akan resmi menjadi istri Rafsanālelaki yang telah menemaninya selama hampir lima tahun.
Ponselnya berdering.
Nama Rafsan muncul di layar.
"Sudah sarapan?" suara Rafsan terdengar hangat.
"Belum. Aku malah sibuk mengecek daftar pernikahan."
"Kamu jangan terlalu capek. Nanti pengantinnya malah sakit."
Bhea terkekeh.
"Kalau begitu kamu yang lanjutkan."
"Siap, Bu Calon Istri."
Percakapan sederhana itu selalu berhasil membuat hati Bhea tenang.
"Aku jemput nanti siang, ya?" tanya Rafsan.
"Ke mana?"
"Ada tempat yang ingin aku tunjukkan."
"Rahasia?"
"Iya."
"Kamu memang suka bikin penasaran."
"Percaya saja."
Telepon berakhir dengan senyum yang sama-sama tersimpan di wajah mereka.
Di sisi lain kota, Rafsan berdiri di depan bangunan empat lantai yang masih dipenuhi suara bor dan dentingan besi. Sebuah papan proyek bertuliskan nama perusahaannya berdiri tegak di depan gerbang.
Dua sahabatnya telah menunggu.
Arga mengulurkan map berisi laporan keuangan.
"Kalau proyek ini selesai tepat waktu, kita bisa naik kelas."