Embun pagi masih menempel di dedaunan ketika Rafsan memarkir mobilnya di halaman kantor. Bangunan tiga lantai bercat putih itu belum lama berdiri. Cat pada dindingnya masih tampak baru, sementara papan nama perusahaan berwarna biru tua berdiri kokoh di depan gerbang.
PT Raksa Karya Nusantara
Rafsan menatap papan itu beberapa saat sebelum melangkah masuk.
Sudah tiga tahun mereka membangun perusahaan ini dari nol.
Tidak ada warisan.
Tidak ada investor besar.
Hanya ada tiga orang yang sama-sama membawa mimpi.
Rafsan.
Arga.
Dan Dimas.
Ketika pintu ruang rapat terbuka, aroma kopi langsung menyambutnya.
Arga sudah duduk di depan laptop sambil memeriksa laporan keuangan.
"Telat tiga menit."
Rafsan tertawa kecil.
"Aku masih calon pengantin. Maklumi."
Dimas yang baru masuk membawa tiga gelas kopi ikut tersenyum.
"Mulai sekarang, kita harus terbiasa. Setelah nikah, jangan-jangan Bos datang siang."
"Kalau perusahaan sudah untung seratus miliar, aku pensiun."
"Ngimpi," sahut Arga singkat.
Mereka bertiga tertawa.
Suasana seperti itu sudah menjadi kebiasaan sejak mereka masih bekerja dari sebuah ruko kecil yang bahkan tidak memiliki pendingin ruangan.