TERRA sub UMBRA

Anoi Syahputra
Chapter #1

01. ARCHIUM SILENS

~Penataan Ketidakhadiran~

*

Status Dokumen: Tidak Diakui

Kategori: Peristiwa Tanpa Kejadian

Kode: 0/Null

Instruksi: Lupakan

Arsip ini tidak pernah lahir. Negara memastikannya dengan cara yang sangat santun.

Ia tidak dibakar, tidak pula dimusnahkan seperti benda yang menyimpan dosa. Ia hanya dipindahkan ke sebuah ruang tunggu yang lebih sunyi dari kematian.

Sebuah tempat di mana sesuatu diizinkan ada, namun dilarang untuk disebut namanya. Negara menyebutnya sebagai izin yang dicabut dari kenyataan.

Di negeri ini, penghapusan selalu dilakukan dengan keanggunan yang luar biasa. Tidak ada teriakan, tidak ada ledakan, apalagi pengumuman darurat. Negara percaya bahwa kenyataan—jika diperlakukan dengan cukup halus, akan bersedia berpura-pura tidak pernah terjadi.

Dan kenyataan, seperti biasa, selalu patuh pada siapa pun yang memegang gagang cap.

Malam saat arsip ini tercipta, langit tampak steril seperti meja operasi. Bahkan awan memilih untuk menepi, serupa saksi yang menolak memberikan kesaksian.

Kota tetap tenang. Lampu jalan berpijar stabil. Pohon-pohon berhenti bergoyang. Jika orang-orang melihatnya dari jauh, mereka akan mengira negeri ini sedang baik-baik saja.

Ketenangan memang teknik tertua yang digunakan dunia untuk menyembunyikan bau bangkai.

Di sebuah gang yang terlalu kecil untuk diberi nama, sepasang kaki melangkah terburu-buru. Itu bukan langkah pria yang takut terlambat pulang ke rumah, melainkan langkah seseorang yang sadar bahwa jiwanya sedang diincar.

Napasnya terdengar seperti kertas yang diremas paksa.

Ia menoleh sekali, seolah ingin memastikan bahwa dunia masih memiliki rupa yang sama seperti lima menit lalu. Namun dunia tak pernah berubah—ia tetap sama. Yang berubah hanyalah jumlah orang yang diizinkan untuk terus menghuninya.

Suara kendaraan berhenti. Bukan berhenti biasa, melainkan berhenti yang terlalu presisi. Seperti sebuah kalimat yang sudah dilatih berulang kali di depan cermin.

Pintu terbuka dengan tenang. Tak ada bentakan. Hanya irama sepatu yang menyentuh aspal. Pendek dan padat, menyerupai tanda titik.

Tangan-tangan yang rapi muncul dari kegelapan, bergerak tanpa keraguan, layaknya pegawai yang sedang melakukan tugas administratif biasa.

Seseorang berbisik pelan, "Ikut kami."

Pria itu tak sempat menjawab. Kata "kenapa" bahkan belum sempat terbentuk di lidahnya saat tubuhnya sudah dipindahkan dari udara bebas ke dalam perut besi yang dingin.

Lihat selengkapnya