Ada sebuah masa ketika dunia tak lebih dari sekadar buku bergambar yang indah.
Di usia itu, anak-anak percaya bahwa setiap cerita dikutuk untuk punya akhir yang rapi. Bahwa semua pertanyaan memiliki pelabuhan jawaban dan orang dewasa di sekitar mereka selalu tahu ke mana arah kemudi diputar.
Mereka percaya, karena memang belum pernah melihat halaman tengah sebuah buku disobek paksa, lalu dibakar begitu saja.
Adam Kael berusia sembilan tahun saat ia menyadari bahwa tidak semua kisah diizinkan untuk selesai.
Sore turun terlalu cepat hari itu, seolah matahari terburu-buru bersembunyi dari sesuatu yang tak ingin ia saksikan. Angin membawa aroma tanah basah dan sisa asap yang tak jelas asal-usulnya.
Di dalam rumah, ibunya sibuk melipat pakaian, sementara ayahnya duduk di meja kayu kecil menghadapi secangkir kopi yang memudar hangatnya.
Ayahnya bukan tipe pria yang banyak bicara. Wajahnya setenang permukaan danau, namun matanya terus bergerak—mengamati dunia seolah itu adalah teka-teki yang harus dipecahkan dalam diam.
Di hadapannya, sebuah buku catatan hitam terbuka. Buku lama yang tipis, namun dirawat seolah setiap lembarnya memiliki detak nadi.
Adam masih ingat bunyi kertas saat dibalik. Tipis, namun tegas. Seperti rahasia yang terlipat rapat.
"Ayah lagi nulis apa?" tanya Adam dari lantai.
Ayahnya tersenyum sedikit. Bukan senyum yang lebar, tapi cukup untuk meyakinkan seorang anak bahwa atap rumah mereka belum akan runtuh.
"Ayah cuma lagi mengingat," jawabnya pelan.
Adam mengernyit. "Mengingat apa?"
Pria itu menutup bukunya perlahan, menekan ujung halamannya seakan takut huruf-huruf di dalamnya akan menguap jika dibiarkan telanjang terlalu lama.
"Hal-hal yang orang lain pilih untuk lupakan."
Adam hanya mengangguk. Seperti kebanyakan anak kecil, ia menelan kalimat orang dewasa sebagai kebenaran mutlak, meski tak selalu bisa dipahami oleh akalnya.
Di luar, ban kendaraan menggilas kerikil. Terdengar lazim. Namun, ayahnya mendadak menoleh. Tatapannya tak kembali ke buku. Kopi di meja pun tak lagi disentuh.
Ketegangan merayap masuk perlahan, mendahului ketukan di pintu yang terdengar begitu sopan, namun tak menoleransi penolakan.
Ibunya bangkit seketika. Ayahnya tetap mematung. Dunia seolah menahan napasnya sebentar.
Pintu terbuka, menampakkan dua pria berpakaian rapi dengan sepatu yang berkilat sempurna. Wajah mereka teramat biasa, tipe wajah anonim yang mudah ditemukan di ruang tunggu bank atau di balik meja pemerintah.
Salah satu dari mereka menunjukkan selembar kertas. Adam tak melihatnya jelas. Ibunya membaca cepat, matanya menyisir kata demi kata dengan gelisah, lalu... ia membeku.
"Ada keperluan apa?" suara ibunya bergetar halus
"Hanya butuh sedikit klarifikasi."