TERRA sub UMBRA

Anoi Syahputra
Chapter #3

03. Memoria Contra Imperium

~Beberapa peninggalan tidak diciptakan untuk dikenang. Beberapa peninggalan diciptakan hanya untuk menunggu~

*

Adam menemukannya pada sore yang berjalan tanpa maksud apa pun.

Langit tidak dramatis. Matahari turun biasa saja. Orang-orang tetap lewat di depan rumah seperti hari-hari sebelumnya. Dunia tidak memberi tanda bahwa sesuatu sedang bergeser pelan di dalam dirinya.

Rumah itu terasa berbeda sejak ayahnya dimakamkan. Bukan karena kursi dipindahkan, bukan karena jendela sudah diganti. Semuanya masih sama.

Yang berubah hanyalah cara ruang memantulkan suara.

Tidak ada lagi batuk kecil dari kamar. Tidak ada lagi suara halaman dibalik pelan di meja kayu. Tidak ada lagi bunyi sendok mengaduk kopi terlalu lama.

Kematian ayahnya tidak datang seperti ledakan. Kematian itu datang seperti keputusan yang sudah disiapkan jauh hari, lalu diumumkan tanpa perlu diskusi.

Tubuh itu kembali dengan lebam yang dijelaskan sebagai "cedera biasa". Organ yang rusak disebut "komplikasi." Surat kematian menyebutnya "gagal fungsi".

Tidak ada satu pun lembar yang menyebut sebagai konsekuensi lima hari itu.

Negara jarang membantah secara langsung. Negara hanya memilih versi mana yang boleh bertahan.

Sejak hari itu, rumah mereka penuh benda tetapi kehilangan pusat.

Kursi masih ada, cangkir kopi masih ada. Jam dinding tetap berdetak seperti biasa. Namun... tidak ada lagi orang yang membuat semua itu terasa penting.

Adam berdiri di depan kamar ayahnya cukup lama sebelum masuk.

Tangannya menyentuh gagang pintu yang dingin. Ia menunggu sebentar, entah apa yang ia tunggu. Mungkin suara yang memanggilnya kembali. Atau mungkin keberanian yang datang tanpa dipanggil.

Ia memutar gagang dengan pelan. Pintu terbuka tanpa perlawanan.

Ruangan itu menyambutnya dengan aroma yang ia kenal sejak kecil: kertas lama, tinta kering, dan kayu yang menyimpan udara terlalu lama. Debu tipis melayang di cahaya senja.

Meja kecil itu masih menghadap jendela. Kacamata ayahnya terlipat rapi. Jam tangan tua diletakkan sejajar dengan pena.

Seperti seseorang yang pergi sebentar dan akan kembali setelah urusannya selesai.

Dan di sana, buku hitam itu.

Adam menarik kursi. Lalu duduk. Lututnya terasa lemas tanpa alasan jelas.

Ia menatap buku hitam itu cukup lama.

Dulu, ia sering melihat ayahnya menulis di sana. Diam dan tidak tergesa-gesa. Seolah dunia di luar bisa menunggu sampai tinta benar-benar selesai mengering.

Sekarang buku itu sedang menunggu dirinya.

Lihat selengkapnya